renungan bulan baru

278658.png

 
kita seringkali berharap akan menemukan percakapan yang bermutu, sapaan yang hangat, teguran yang ramah.
kita seringkali berharap akan mendapati sahabat yang pengertian, teman yang bijaksana, rekan yang sabar dan perhatian.
kita seringkali berharap ada dalam pusat kebaikan, titik tekan produktifitas, fokus pada kebermanfaatan.
ah,
kita terlalu sering berharap.
kita terlalu sering berharap sampai lupa atau setidaknya luput dari perhatian kita bahwa setiap harapan memiliki harga.
silahkan gantungkan harapan tinggi, setinggi bintang kata orang.
silahkan tambatkan harapan begitu dalam, sedalam lautan kata orang.
tapi ingat,
ingat bahwa setiap harapan memiliki harga yang pantas.
sebab kesempatan tak akan pernah berharga tanpa persiapan yang tuntas.
sudahkah engkau berusaha untuk selalu memilah-memilih isi percakapan?
sudahkan engkau berusaha untuk menyapa seseorang dengan penuh ketulusan?
sudahkah engkau berusaha untuk menegur seseorang dengan mengesampingkan apa yang kau rasakan?
sudahkah engkau berusaha untuk berada di posisi sahabatmu?
sudahkah engkau berusaha untuk dewasa saat mendengar cerita dari temanmu?
sudahkah engkau berusaha meredam amarah dan mencurahkan perhatian kepada rekanmu?
sudahkah engkau berusaha berbuat baik dimana saja?
sudahkah engkau mengerjakan segala amanah tanpa menunda-nunda?
sudahkah engkau tuntas akan ekspetasi serta apresiasi dan berfokus pada senyum tulus tiap manusia?
bulan masih cukup tinggi, cukup terang,
kawan, mari perbaharui janji, malam masih panjang.

Menenggok masa lalu : post pertama di tumblr saya

“aku ingin memulai hidup baru, sebagai bukti bahwa aku tidak pernah sedikitpun berhenti berlari, meskipun aku pernah terjatuh berkali-kali.” -Ihkam Aufar Z

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kawan,
dalam hidup ini entah ada berapa banyak ragam jenis makhluk hidup tak hidup yang sengaja dikirimkan Yang Maha Kuasa untuk menutupi langit cerah kita.
tiba-tiba tanpa permisi menguasai sebagian besar tingkah-laku, mengatur dan mendominasi tanpa malu-malu.
barangkali, tiap dari kita menyambutnya dengan wujud yang berbeda-beda, ada yang menjelma jadi sistem rumit dan menyebalkan, ada yang hidup dan tumbuh besar sebagai senior di satu jurusan, ada pula yang mungkin pada awal kehadiran sebetulnya begitu kita syukuri, banyak memberikan ruang dan pertolongan yang menyenangkan hati, namun belakangan justru berusaha kita hindari setengah mati.
kawan,
dalam hidup ini entah ada berapa banyak ragam jenis bentuk rupa karakter hidup tak hidup yang tanpa izin bermunculan di sekeliling kita,
menjadi awan kelabu yang menutupi langit biru,
menguji keluasan hati dan kedewasaan saat memberikan reaksi.
kawan,
hidup adalah tentang keberanian menghadapi tanda tanya,
hidup adalah tentang kesempatan dan tanggung jawab atas tiap pilihan,
maka saat beberapa awan kelabu datang menghampiri, saat ombak besar tiba-tiba hadir tanpa permisi,
itulah saat paling tepat bagi kita untuk mengambil nafas panjang, menjernihkan pikiran sebelum pada akhirnya melangkah, mengambil keputusan.
silahkan menepi, sejenak berdiam, menenangkan diri, mencoba melihat apa yang terjadi tanpa banyak campur tangan emosi.
kawan,
ini bukanlah akhir dari perjalanan,
bahkan barangkali dibandingkan para pendahulu, apa yang kita hadapi dan lakukan masih jauh dari kata perjuangan.
maka sadari dan pahami dengan penuh pemaknaan, bahkan hidup selamanya adalah kombinasi sabar dan syukur yang tidak mengenal pemberhentian.
 
 

P.s : post pertama saya adalah quotes diatas, foto dan pemaknaan mengiringi belakangan  :))

kepergian


seiring berjalannya waktu, pergi dan meninggalkan barangkali adalah sekadar soal urutan acak yang tak tentu, siapa yang lebih dahulu, siapa yang akan hidup lebih lama dengan mengenggam rasa rindu.
kawan, pada dasarnya pertemuan dan perpisahan adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan, sebagaimana jika kita berjalan, pasti akan ada jejak yang ditinggalkan.
hari ini, salah seorang sahabat dekat memberikan kabar, Ayahnya meninggal tepat pukul 10.50 malam kemarin.
kamu tahu, dia anak yang begitu baik, anak terakhir dari tiga bersaudara, namun selalu sukses memimpin dan mengatur berbagai hal dalam keluarganya. sehari-hari menjaga toko yang masih satu atap dengan rumahnya, mengatur beberapa karyawan dan hafal dengan mudah seluruh pelanggan beserta alamat pengirimannya. rela meninggalkan dunia daki-mendaki gunung kala orangtuanya kurang berkenan, rela mengambil kuliah malam saat di jam yang sama kebanyakan anak seusianya justru sedang asik mencari tempat makan bersama teman, bercanda dengan gaya khas anak Jakarta padahal asli dan lahir di tanah Jawa.
sakitnya memang sudah sedari lama, beberapa kali sempat bermain bahkan menginap, cerita tentang kondisi Ayahnya sempat tersisip satu-dua, meskipun begitu, dia selalu pandai bertutur kata dengan ceria, satu keunggulan yang barangkali hanya dimiliki segelintir dari kita.
pagi tadi, sepagi yang kubisa, aku datang dengan penuh tanya, meski sudah beberapa kali hadir dalam prosesi semacam ini, kepergian orang tercinta dari sahabat dekat bukan satu hal yang aku akrab dan mampu menghadapinya.
setidaknya aku hadir untuk menghibur..
sesederhana itu yang kupikirkan.
maka pertemuan awal itu terjadi juga dengan sederhana.
berpelukan. respon pertama justru ucapan terima kasih dari dia. respon yang sukses membuat kehilangan beberapa kata,
tidak kawan, barangkali hanya ini yang baru bisa aku berikan, sekadar kehadiran.
pada akhirnya hanya,
“yang tabah ya, insya Allah ini yang terbaik bagi semua..”
“iya.. terima kasih, eh udah sarapan?”
dan lagi-lagi dia justru yang mampu memecahkan suasana dengan cepat.
***
siang sekitar pukul sepuluh, Masjid ramai,
“…pembina Masjid kita.. yang setia dari tahun ke tahun membimbing dan mengarahkan..  mengembangkan dan mencurahkan dengan penuh keikhlasan..”
sepotong sambutan dari pengurus Masjid sukses membuat suasana semakin haru, aku yang sebetulnya tidak mengenal terlalu jauh juga terhanyut oleh suasana itu.
kalau nanti aku meninggal, akan di kenang seperti aku kelak?
***
dia hampir mengurus segala prosesnya, menjadi yang ditanya orang tentang letak posisi tenda, pengiriman ambulance, fotokopi surat dan urusann administrasi, bahkan aku pun turut sedikit membantu memasukkan beberapa lembaran uang ke dalam amplop,
“budaya disini emang gitu Up, udah ikutin aja, pendatang mah hargain adat setempat aja..”
lokasi pemakaman cukup dekat, tempat yang disekelilingnya sudah berdiri dengan gagah gedung-gedung strategis daerah Mega Kuningan.
dia sendiri yang turun ke liang lahat, mengatur posisi Ayahanda, mengambil beberapa genggaman tanah untuk mengganjal posisi-posisi tertentu sesuai arahan dari beberapa orang dari atas kuburan.
sungguh, betapa tangguh anak ini.
dan momen itu,
dengan lirih adzan dan iqamah dikumandangkan oleh dia,
suara lirih yang dihiasi beberapa air mata,
momen dimana kembali mengingat bahwa sejatinya hidup kita begitu singkat,
kita hanya diminta berjalan, bersusah payah di antara jeda adzan dan iqamah.
***
“angkatan ini masih akan menjalani berbagai momen kehidupan, insya Allah, masih panjang jalan kita bersama.  beberapa waktu lagi, ada yang akan segera lulus menjadi sarjana, lalu nanti beramai-ramai jadi para pencari kerja, lalu beberapa akan susul-menyusul mengirimkan undangan, bersama pasangan membentuk keluarga idaman, nanti kita akan sama-sama cemas saat kelahiran anak pertama, bahagia mendengar tangis pertama anak kita, kita akan berjuang mencari penghasilan demi cicilan rumah, kendaraan, serta pendidikan dan segala pernak-pernik khas keluarga, nanti kita insya Allah masih akan reunian, tukar cerita, saling sharing mulai dari susu yang cocok bagi anak sampai mungkin rencana naik haji dan mimpi-mimpi lain yang juga cukup tinggi, dan kelak, pada saatnya, satu persatu dari kita akan pergi, berpamitan dengan cara kita masing-masing.  ingat kawan, tagline sederhana angkatan kita, ‘tiga tahun kita bersama, selamanya kita bersaudara’, adalah janji yang akan kita bawa, dan ingatlah bahwa hakikatnya kita harus saling menguatkan, berjuang hingga kelak kembali bersama dapat menyelenggarakan kembali reuni di SurgaNya”

tumbuh dan mekar, tangguh serta tetap sabar.

Perlahan tapi pasti, orang-orang yang hadir dalam hidup kita akan semakin menyayangi kita dengan cara yang berbeda, memberikan kepercayaan lebih, menitipkan harapan yang lebih, mengurangi interaksi yang tidak perlu, mengurangi canda tawa dan sebagainya. Barangkali, bentuknya pun kadang akan jauh lebih beragam, diam saat bertemu, menuntut tanpa pengertian, datang dan pergi tanpa banyak penjelasan, berbisik dalam keramaian, mencampuri urusan atau justru menghindari percakapan, ah, atas semuanya, semoga saja, kita diberikan kemampuan yang lebih tinggi untuk memahami setiap tanda yang ada, kemampuan yang setidaknya cukup untuk menerjemahkan berbagai gejolak rasa menjadi jawaban serta tindakan yang sederhana, sehingga ekspresi cinta dapat terserap tanpa bias, sehingga masing-masing kita tetap bisa berekspresi dengan bebas.

***
cropped-path-2015-08-16-00_18.jpg
berapa usia kita sekarang? usiaku ketika menulis ini 20 tahun kawan.
jika aku mati di usia 60 tahun, maka sudah 1/3 perjalanan kulewati.
atas segala hal yang sudahku lalui, ucap syukur tiada henti atas berbagai karunia yang datang dan senantiasa menghiasi tanpa henti.
kawan,
apa yang menjadi masalah terbesar dalam hidup kalian hari ini?
ah, sebelum melayang-layang dalam senandung curhatan tak berujung, ini adalah tulisan pertama, selepas aku tenggok kembali dan kutiup jauh-jauh debu yang mulai menempel di sudut-sudut laman blog ini, tetiba teringat akan semangat awal kala baru beranjak dari bangku SMA, semangat untuk segera memanfaatkan berbagai fasilitas yang dimiliki untuk bisa berkontribusi lebih banyak lagi.
ini adalah tulisan pertama yang kutuliskan, jujur saja, tak banyak yang ingin diungkapkan, hanya sekadar ingin merayakan keberhasilanku atas perlawanan  menakhlukan rasa malas dari segala excuse yang biasanya mampir saat aku berusaha untuk menapaki langkah-langkah awal, seperti merapihkan blog ini.
***
kawan,
kita semua, suka tidak suka, akan semakin tumbuh dan berkembang.
aku suka analogi pohon, kita ibarat pohon-pohon yang ada di berbagai wilayah, dalam satu keadaan, pohon besar bisa saja justru akan dicabut lebih dulu, entah akan dimanfaatkan untuk kebutuhan perkakas atau justru di tanam di tempat yang baru, dalam satu keadaan, bisa saja satu wilayah berisi pohon-pohon sejenis, relatif memiliki kesamaan baik dari tinggi maupun akar pemahaman, tapi yang pasti, setiap pohon, akan selalu berusaha untuk hidup dan tumbuh, begitupun kita.
maka sadari dan pahami bahwa seiring berjalannya waktu, perlahan tapi pasti, kita akan semakin meninggi, membubung menembus batas-batas yang dulu saat masih kecil terasa jauh dan begitu rumit.
maka sadari dan pahami, semakin tinggi kita bertumbuh, apa yang kita lihat tidak akan pernah sama lagi, tidak akan bisa kita jangkau dan pahami dengan cara yang dulu lagi.
maka sadari dan pahami, dengan berbagai perbedaan itu, sejatinya kita pun telah mengalami perubahan, akar yang menancap jauh lebih kuat, gurat-gurat yang lebih tegas, jumlah daun dan ranting yang semakin lebat,
maka sadari dan pahami, semakin kita bertumbuh, semakin kencang pula angin yang akan menerpa kita.
adakalanya suatu hari nanti kau akan dapati, angin tidak berhasil merubuhkan dirimu, namun teman yang berada beberapa jengkal dari tempatmu.
adakalanya suatu hari nanti kau akan dapati, angin tak mampu untuk mencabut kamu dari akarmu, namun teman yang berada tepat di sampingmu, teman yang selama tumbuh dan berkembang selalu hadir dalam hari-harimu, tiba-tiba saja rubuh. tanpa diawali oleh keluhan, tanpa dibuka oleh beberapa gejala sakit yang berlebihan.
dan mungkin,
adakalanya suatu hari nanti akan engkau rasakan sendiri, saat sekitarmu merasa bahwa hembusan angin yang ada hanyalah hembusan sederhana, saat sahabat-sahabat yang berada disekitarmu terlihat tetap dapat tumbuh dan berkembang tanpa banyak terhambat kendala, tiba-tiba saja. gubrak. kamu tumbang. tumbang tepat disaat sekelilingmu sedang membicarakan kebaikanmu. tumbang saat sekelilingmu merasa bahwa kamu adalah yang terhebat, kamu adalah yang terkuat.
aih, semua mungkin saja terjadi bukan, kawan?
tapi atas berbagai fenomena yang mungkin terjadi di depan sana,
sadari dan pahami juga bahwa semakin kita tumbuh, akan ada banyak kebaikan yang lebih mudah kita bagikan.
rindangnya dahan, lezatnya buah-buahan, cantiknya bunga yang berguguran.
sebab perjalanan panjang tumbuh dan berkembang, sesakit apapun, sepahit apapun, akan menyisakan batang-batang terbaik untuk mempersembahkan karya bakti terbaik.
maka kawan, mari terus berjalan, mari bersama terus tumbuh dan meraksasa, mari bersabar dan terbang mengangkasa.
***
maka atas kemenangan sederhana di malam ini, kurayakan di Coffee Toffee Depok, semoga kedepan, akan muncul lagi kemenangan-kemenangan lain atas penakhlukan kerikil-kerikil bahkan batuan-batuan yang ada di dalam diri.
sebab pertarungan dengan diri sendiri merupakan pertarungan tiada akhir, sampai diri ini lebur lalu beranjak menuju pertarungan yang selanjutnya.
akhir kata,
Selamat membaca, selamat menikmati,
bagi kalian yang ditakdirkan mampu merasa dan memahami, tulisan sederhana dari diriku ini.

Kepanitiaan

20131222-105936.jpg
20131222-105959.jpg
20131222-110158.jpg

tidak sepenuhnya percaya bahwa tugas mahasiswa hanya terkait bangsa, negara, dan almamaternya. Memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pribadi menurut saya juga sebuah tugas yang harus di laksanakan, salah satunya dengan mengikuti berbagai kepanitiaan.