pilihan dan keberanian

img_6094
sepertinya masing-masing dari kita kelak akan segera bertemu dengan satu titik dimana kita harus memilih satu dan mengorbankan yang lain.
ini bukan soal pekerjaan dengan keluarga, bukan juga hal sebesar nasionalisme yang harus tergadai demi keselamatan jiwa.
sepertinya level kita belum sampai ke arah sana,
titik itu adalah titik dimana kita memilih dari beberapa pilihan, lalu kita mulai letih menjalani pilihan yang telah kita ambil.
titik itu mungkin lebih akrab disebut titik jenuh.
 ____
saya begitu menyukai kalimat,
“kita bebas memilih, tapi kita tidak pernah bebas atas konsekuensi atas pilihan yang telah kita ambil.”
sederhana, namun sungguh membuat saya seringkali berpikir berulang hanya untuk mengambil suatu tindakan tertentu,
mengangkat telepon, memulai percakapan dengan orang lain, menyusun suatu rencana, bergabung dan terlibat dengan satu agenda, atas tiap pilihan, akhirnya saya semakin menyadari bahwa memang mungkin kebebasan justru terasa indah dengan batasan-batasan.
dalam setiap pilihan yang kita ambil, biasanya akan selalu hadir semangat yang begitu meluap-luap, semacam daya dorong atas keinginan serta kesiapan yang bertemu dengan kesempatan. liar dan tidak terkendali kadang, bahkan diawal biasanya hal-hal kecil terasa begitu berarti lagi perlu untuk dikritisi.
lantas disana kita akan begitu berani loncat, lari, berjibaku disana-sini semata untuk memperjuangkan gagasan, ide, serta semangat untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik, menurut kita.
lalu selanjutnya, akan dimulai benturan-benturan mulai dari yang ringan hingga yang kita rasa diluar batasan.
terjadi perbedaan, terjadi gesekan, terjadi penolakan.
semuanya berlanjut sampai pada satu titik, kita merasa tidak ada lagi jalan, semua yang kita lakukan seolah mentah.
lalu kita mulai linglung, tidak seimbang, mulai membandingkan-bandingkan, mulai mencari pegangan, mulai mencari pelarian. mulai lupa atau tepatnya melupakan alasan pertama kita memilih pilihan tersebut.
setelah itu apa?
gugur.
ada saja yang tiba-tiba mundur teratur, hilang seolah lebur.
lucu.
seolah hidup adalah sekadar menjalani apa yang kita sukai, atau tinggalkan sama sekali.
lucu.
sebab justru disaat “kegelapan” itu hadir, ada yang memanfaatkannya untuk menghilang, seolah gelap bukan bagian dari perjalanan, seolah gelap selalu menyimpan keburukan.
____
img_6093
jangan takut akan gelap kawan, disana justru kita akhirnya bisa melihat apa-apa yang tidak terlihat saat terang, tatap langit diatas, saksikan sendiri bahwa bulan dan bintang justru lebih menawan saat dalam kegelapan,
semakin pekat malam, semakin dekat dengan fajar.
itu kredo alam yang jelas dan tegas.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk menegaskan siapa kamu sebenarnya.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk menyatakan dengan lugas dimana kamu berada.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk memberikan yang terbaik yang kita bisa.
kelak ketika fajar itu datang,
ketika siraman mentari telah seutuhnya menerpa wajah kita,
itulah saatnya kita nikmati bersama hangatnya dunia menyapa kerja-kerja kita.
sebab seperti yang sering saya katakan dalam berbagai kesempatan,
percaya,
tidak ada hasil yang mengkhianati usaha,
sebab cara terbaik mendapatkan kebaikan adalah dengan memberikan kebaikan.
 6490700e-f63b-495a-a55b-8ccdd13a6389

apa yang menjadikan mahasiswa berharga?

13920390_10154431695099490_6669349205752013377_o.jpg
apakah jumlah adik yang berhasil ia kader meneruskan tahta, sejumlah manusia yang akhirnya memiliki cara pandang, idealisme yang serupa?
apakah lengkapnya koleksi kartu, peliharaan dalam satu permainan, jejeran smartphone atau justru audio mobil modifikasi yang menghabiskan puluhan juta?
apakah angka yang tertera di rekening panitia yang berhasil didapatkan lewat jerih payah marketing call tak berkesudahan?
apakah teriakan hidup-hidup-hidup yang bersautan, tak berkesudahan seantero jalanan?
apakah gelora semangat yang menembus nyali-nyali ciut para orang tua, mereka yang sedang duduk berkuasa?
apakah analisa tajam nan tanpa beban atas berbagai kondisi terkini, persoalan negeri yang berhasil dikaji lewat serangkaian diskusi panjang siang dan malam?
lantas seandainya ada salah satu yang ternyata jadi jawaban,
apakah itu cukup untuk kita hingga pada akhirnya berani menyebutkan diri kita sebagai seorang mahasiswa?

1 Agustus 2016, sebuah momentum akbar pertama, gong besar pembukaan kegiatan mahasiswa baru Universitas Indonesia 2016 telah terlaksana.
7302. Jumlah mahasiswa baru Universitas Indonesia angkatan 2016.
mutiara Universitas Indonesia.
disanalah kemarin saya untuk pertama kalinya menyapa,
tentu tak banyak yang bisa disampaikan, keterbatasan waktu, agenda yang masih menunggu setelahnya, dan juga memang pada akhir disengaja.
tak banyak kata, cerita yang tersampaikan.
saya mengawali sapaan pagi itu dengan menjelaskan visi dari OKK UI 2016.

momentum perayaan insan akademis menuju kontribusi tanpa batas

penjelasan sederhana tentang makna kontribusi tanpa batas, bahwa ditempat inilah kalian bisa jadi apa saja, sepanjang itu baik dan membawa kebaikan, kejar dan perjuangkan.
sapaan berlanjut pada cerita dua sosok yang sengaja saya hadirkan sebagai contoh bagi laki-laki dan perempuan,
mereka adalah Sri Mulyani dan Eyang Habibie, dua sosok inspiratif yang sebetulnya telah coba diundang oleh kami namun memang karena tidak bertemunya kesempatan maka tidak bisa terjadi,
Sri Mulyani, bagaimana beliau kembali ke negeri ini, meninggalkan beragam keidealan IMF hanya demi sebuah jabatan yang tentunya akan lebih “panas” dan “bergejolak”,
Eyang Habibie, bagaimana beliau rela, tetap bertahan, dengan kewarganegaraan Indonesia, padahal negeri itu telah menawarkan tawaran gila yang luar biasa,
singkatnya, saya coba hadirkan sejenak sosok yang harusnya bisa membuka pandangan mereka, siapa sesungguhnya mereka yang layak disebut alumni dari kampus bernama Universitas Indonesia.
sapaan lantas saya tutup dengan penjelasan tentang makna mutiara.
mengapa mahasiswa baru Universitas Indonesia mendapatkan panggilan mutiara.
bagaimana mutiara tercipta merupakan awal dari penjelasan, bagaimana justru dengan makin dalamnya lautan akan menciptakan tekanan yang membuat bentuk mutiara semakin sempurna.
dan saya berani berkata pada momen itu bahwa sejatinya

“kalian semua adalah mutiara!
orang-orang terpilih dari segenap pelosok desa, penjuru kota,
orang-orang yang telah melewati serangkaian proses panjang yang luar biasa!
namun bukan sekadar itu yang kami harapkan ada pada kalian,
karena kalian mutiara maka keindahan bukan semata karena kalian ada,
tapi indahnya mutiara adalah karena kalian berhimpun, karena kalian bersama-sama.
maka jadikan rangkaian KAMABA UI kali ini, mulai dari paduan suara, PSAU, OKK UI, PSAF, sebagai sebuah rangkaian, momentum bagi kalian semua, turning point, titik dimana kalian menyadari bahwa menjadi mahasiswa adalah soal tentang karya nyata,
tahun ini OKK UI mengusung konsep mentoring dimana kalian akan langsung disatukan dengan kelompok yang begitu beragam,
manfaatkan betul kesempatan itu,
dan mutiara Universitas Indonesia menjadi berharga karena kalian bergerak bersama-sama,
maka sadari dan pahami mulai detik ini bahwa kalian semua adalah mutiara,
lihat kanan-kiri kalian,
rasakan semangat itu,
berkenalanlah dengan mutiara dari fakultas yang berbeda, dari rumpun yang berbeda,
berkenalanlah dengan mereka yang berbeda suku, berbeda agama,
rasakan bahwa perbedaan adalah kekuatan!

sapaan itu saya akhiri.
dilanjutkan oleh Andy, lalu ditutup oleh pekik Universitas Indonesia yang dipimpin oleh Shendy,
di momen ini jugalah pertama kalinya kami memperkenalkan cara baru menggemakan pekik Universitas Indonesia,
dengan mengawalinya dengan kutipan lagu hyme UI,

…dan mengabdi Tuhan…
…..dan mengabdi Bangsa…..
……..dan Negara Indonesia……
UI!
Kepal jari jadi tinju!
UI UI kampusku!
Bersatu almamaterku!
UI!

maka menjawab dua poin besar, apa yang menyebabkan mahasiswa begitu berharga, dan apa yang membuat itu cukup untuk dijadikan alasan bagi seseorang menyandang titel mahasiswa,
adalah karena mereka berbeda, istimewa, dan mereka bergerak bersama-sama.
buang jauh titel itu seandainya kelak ketika bertemu dengan perbedaan mereka justru yang berada paling depan meruncingkan keadaan,
buang jauh sebutan kehormatan itu jika kelak ditemui keadaan bahwa satu kelompok merasa lebih tinggi dibandingkan yang lainnya,
buang jauh mahasiswa bila nanti ditemui orang-orang hebat yang bergerak sendiri-sendiri, berjuang mati-matian sendirian bukanlah cara mahasiswa, bukan seorang mahasiswa,
kita berharga sebagai mahasiswa karena kita berbeda dan kita bergerak bersama-sama.
terus mencari dan mempertahankan kebenaran.
 
 

Mengelola dan menjaga harapan

Syahdan, terkisah perjalanan hidup setiap anak manusia generasi akhir zaman, dimana tiap dari mereka memiliki mimpi masa depan, salah satunya adalah meraih pendidikan paling tinggi di tempat terbaik di negeri ini.
Mereka berkompetisi, sikut kanan-kiri, injak bawah, pukul atas, jegal depan bahkan tak lupa meludah kebelakang. Kompetisi ini sistemik, tak bisa dilawan, tangguh atas berbagai perubahan. “Menguji agar mendapatkan yang terbaik, sebab hanya yang terbaik yang layak dan sanggup bertahan” , winner stand alone, itu kredo mereka. Podium hanya satu, hanya untuk yang nomor satu.
***
Pada tiap kompetisi, perlombaan seringkali di maknai sebagai hakikat sejati, berusaha jadi yang tercepat, terhebat, berusaha jadi roket yang paling melesat.
Maka sungguh, setiap anak dizaman ini dilalap dan kalap oleh kompetisi. Berusaha terus memberikan yang terbaik, menjadi yang terbaik, sampai tiba pada satu titik, 
lupa, 
apa sebetulnya esensi dari tiap laku perbuatan dalam hidup mereka.
***
Dalam tiap perlombaan, ada begitu banyak harapan yang digantungkan. Tertaut di bintang, tergantung diantara laut dan bulan yang terang.
Maka sejenak, atas berbagai kompetisi yang pernah kita lalui, atas berbagai perlombaan yang pernah kita alami, mari sejenak tengok sisi lain yang mungkin sudah lama tidak kita hargai.
Kalah. Menyerah. Marah. 
Dibuang. Ditendang. 
Kecewa, merasa semua sia-sia.
Sudah berapa kekalahan kita dapatkan? 
Sudah berapa banyak kesalahan yang membuat kita seolah kehilangan harapan?
Sudah sampaikah kita di titik persimpangan, merasa bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menutup buku lalu membuka lembaran baru?
Maka sungguh sahabat, saat dunia serasa tidak berpihak kepadamu, saat diri merasa tak seorang pun di dunia yang dapat mengertimu, saat ketakutan akan masa depan terus menghantui bersamaan dengan rasa sakit akan masa lalu, mari sejenak tengok kembali hatimu. Sudah berapa lama ia lupa kita hidupkan? 
Sudah berapa segmen kehidupan yang luput dari pemaknaan? 
Sudah berapa banyak kesalahan yang terjadi tanpa penyesalan? 
Sudah berapa banyak kebaikan yang terabaikan tanpa kekecewaan?
Sahabat, 
lantas atas semua renungan tadi, semua akan berujung pada satu pertanyaan sederhana, apakah, atau sejauh apa hidup kita dengan Sang Pencipta?
Sebab Dia lah yang sejatinya menciptakan diri ini, 
yang menghidupkan hati, 
yang menganugerahi hela nafas serta denyut jantung setiap hari.
Di depan sana, 
Insya Allah, 
Masih akan terhampar luas padang ketidak pastian, masih akan panjang langkah perjalanan, 
Tentu, kekecewaan, penolakan, kesedihan, dan berbagai badai kehidupan silih berganti akan menyapa, akan mengambil dan memberi berbagai pelajaran yang mungkin tak akan pernah kita duga.
Maka sungguh sahabat, mari terus sediakan ruang di dalam diri kita untuk menerima segala ketetapanNya dengan bijaksana, mari renungi sekali lagi firman Allah SWT yang mulia.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. (Mengapa?) Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Albaqarah: 216).
Maka jelas, jangan pernah berhenti berharap kepadaNya, berharap yang terbaik untuk diri kita, untuk orang-orang yang tumbuh bersama kita, untuk semua pihak yang bergerak di jalanNya.
Sebab sekalipun hidup akan terus menawarkan bahagia dan kecewa, 
meski kompetisi akan semakin tak terduga, meski perlombaan akan semakin menggila, meski hidup akan terus menawarkan kata henti dan lari, meski jiwa kadang meradang dan ingin pergi, 
selama kita saling menguatkan, selama kita selalu mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran,
Tak akan ada yang bisa menghentikan kita, sebab bersama Allah swt, kita akan terbang melangit ke angkasa, tak akan pernah berhenti, hingga maut akhirnya menyapa.
Masjid GTA, 23 Ramadhan, 2015
_________
Tepat hari ini di tahun lalu pernah menggoreskan tulisan “sekuat” ini.
Ya Rabb, izinkan serta ridhoi hamba untuk bisa jadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.   💕😇

Ulang Tahun Abi

SONY DSC
tulisan di lembar pengantar disertasi Abi

 
memulai tulisan ini tepat pukul 00.40 ditanggal 25 Mei 2016. barangkali, inilah momen seorang anak pertama akhirnya memberanikan diri, setelah sebelumnya mengumpulkan keberanian. dramatis, tapi itulah yang terjadi.
aku memanggil sosok itu Abi.  Ayah mungkin lebih sering terdengar tapi ya, Abi, adalah panggilan yang entah sejak kapan tersemat pada dia. sulit sejujurnya menjelaskan bagaimana Abi, yang jelas dari deheman suara, batuk yang dia tahan, atau bahkan sesimpel gaya ketika berbicara, dengan mudah aku akan mampu mengidentifikasinya.
2 hari yang lalu, tanggal 23 Mei, Abi ulangtahun. tak bisa hadir atau mengucapkan secara langsung karena tepat dihari yang sama ada welcoming staff OKK UI 2016 dimana aku menjadi ketuanya.
sejujurnya, Ummi pun sudah mengingatkan sehari sebelumnya, tapi lagi-lagi, butuh waktu untuk terlebih dahulu memikirkan lalu mengumpulkan keberanian.
mungkin banyak dari kalian yang akan bertanya, apa susahnya?  terlebih bagi seorang aku yang sebetulnya cukup santai dan supel dalam membawa suasana, tapi jujur, ini berbeda.
___________
SONY DSC
Abi, Faza dan Zahrin

barangkali cerita bisa berangkat dari hari ketika Faza, adik pertamaku ulang tahun. singkatnya, aku berikan Faza hadiah, tapi tiba-tiba, Zahrin adik kedua menangis keras, ternyata dia juga ingin diberikan hadiah, singkatnya, budaya memberikan, atau sesederhana merayakan ulang tahun, bukanlah budaya yang akrab di keluarga.
justru selepas momen itulah, beberapa hal berubah.
Ummi bahkan seingatku pernah membuat dan membacakan puisi khusus untuk Zahrin, dan jujur saja bahkan di momen itu aku juga sempat cemburu.
maka sungguh cerita singkat diatas semoga bisa sedikit menggambarkan bagaimana sulitnya menembus hal-hal kultural di keluarga, entah karena apa, yang kutahu, latar belakang keluarga yang cukup kuat dalam memegang agama, ditambah fakta bahwa Abi bukanlah sosok yang gemar bercerita, membuat hal-hal seremonial terasa begitu asing.
seingatku pun, aku baru pertama kali dirayakan ulang tahun oleh teman-teman SMP dulu di kelas satu, dikerjain habis-habisan, diakhirnya aku justru menangis karena terharu. ahaha..
mungkin jika hanya sekedar membaca cerita singkat diatas, dingin lagi kaku adalah dua sifat yang tepat untuk menggambarkan, tapi justru disinilah aku merasa perlu memberikan tambahan penjelasan.
______
ada banyak perubahan yang terjadi, dan Abi, dalam diamnya, dalam heningnya, aku sendiri merasakan bagaimana sesungguhnya dia begitu luarbiasa coba mengungkapkan kasih sayangnya kepada kami.
aku bahkan sampai pada titik merasa, bahwa “ekspresi cinta dan sayangnya orangtua memang unik lagi istimewa, kadang memang tidak sesuai dengan apa yang selama ini kita selaku anak harapkan, kadang justru ekspresi mereka adalah hal-hal yang dimata kita terlihat konyol dan aneh, maka sungguh memerlukan kedewasaan untuk memahaminya, untuk memaknainya.”
yang masih hangat misalnya, Abi ada raker di Jakarta, harus memberikan arahan jam delapan malam tepat,  dan posisinya Abi memang sedang disana serta harus menginap sekian hari, tapi tiba-tiba iseng saja aku pulang, tentu dengan lapor terlebih dahulu secara singkat “Mas Auf pulang ya, kangen”.  dan akhirnya, tanpa banyak kata pertemuan singkat dan sederhana dari jam lima sampai jam tujuh tercipta. hanya dua jam kebersamaan karena setelah itu Abi langsung kembali lagi ke tempat rakernya.
atau gaya abi yang tidak pernah menolak ketika misalnya aku mengajukan permintaan, tanggapan khasnya “hemm.. bagus..”  “ya.. adalagi?” atau “bilang Ummi dulu”, belum dengan gaya khas lain yang dalam diam ternyata merencanakan banyak hal, pergi ke Lombok tapi baru bilang H min tiga, berangkat mudik tanpa banyak rencana, yang ternyata dibalik berbagai serba mendadak itu ternyata tersimpan susunan rencana yang matang bahkan sampai lapis dua.
Abi itu auditor sejati. segalanya rapih dan teliti, nyaris semuanya memerlukan bukti. ditangan Abi mobil bisa muat begitu banyak barang untuk mudik, bahkan baris belakang bisa digunakan sebagai kasur untuk tidur bergantian sebagai supir, belum lagi soal penataan tempat-barang dirumah yang tak lepas dari detail khas Abi, belum jika membahas urusan uang yang memang terasa begitu detail, dulu saja ketika membeli laptop, budget yang diberikan hampir persis dengan spesifikasi yang aku tawarkan, tapi tentu karena akupun anak ekonomi, ada sisa yang bisa dimanfaatkan, hehe..
______
SONY DSC
tumben senyum :”)

dari Abi, aku belajar arti perjuangan dan pengorbanan.
pekerjaannya dikantor hampir tidak pernah menjadi konsumsi di rumah, tapi sungguh ketika main ke kantor, tumpukan berkas, telepon yang hampir selalu ditangan, dan bude Yayuk yang sibuk masuk-keluar ruangan untuk mengantarkan atau menyampaikan informasi.  rapat, bertemu. ah entahlah, aku pun kadang berpikir dibandingkan segala bebanku sebagai mahasiswa, dunia paskampus itu memang sungguh begitu besar lagi berat adanya.
dan nyaris tanpa keluhan!
ada momen yang begitu terkenang saat dulu aku ingin masuk SBM ITB, uang kuliahnya yang begitu mahal membuatku ragu lantas bertanya, tapi justru jawaban “urusan Mas Auf itu kuliah, masalah bayaran itu biar Abi yang ngurus..” jadi satu kalimat sederhana yang begitu membekas sampai hari ini.
berbicara mengenai momen, masih ingat juga ketika dulu, entah SD/SMP, momen dimana berbagai keluhanku justru dibalas dengan kutipan ayat ketujuh di surat Ibrahim, “Wa iz ta’azzana rabbukum la’in syakartum la’azidannakum wa la’in kafartum inna ‘azaa_bi lasyadid”. bersyukur Mas, masih banyak yang bisa disyukuri!
_____
SONY DSC
Abi dan Ummi

Abi dan Ummi, karakter keduanya sungguh unik dan berbeda.  tapi poinku disini justru ingin menyoroti hal lain yang mereka berikan kepadaku, kepercayaan.
ada banyak limpahan kepercayaan yang aku rasakan selepas aku masuk ke dunia perkuliahan. dari mulai fasilitas yang “naik level” dari dulunya begitu sulit bahkan untuk sekadar meminta uang jajan lebih, perlahan tapi pasti bertambah kearah lain, bahkan aku pun kadang masih heran pada akhirnya mobil jadi salah transportasi utama yang kugunakan.
yang lebih dari fasilitas bagiku, adalah bagaimana izin, kerelaan mereka terkait berbagai keputusan besar yang aku ambil.  masih ingat juga dengan jelas ketika dulu sempat maju dalam ajang pemira fakultas, meski mengetahui bahwa kemungkinan menang begitu kecil sebab peserta lainnya adalah senior, meski mengetahui bahwa resiko besar maju itu salah satunya adalah akademis yang terkorbankan, meski mengetahui ada biaya yang cukup besar yang harus disiapkan diluar kebutuhan bulanan, semuanya diberikan.
dan sekarang pun, ketika pada akhirnya aku menyatakan keinginan untuk sekali lagi berkontribusi pada level yang lebih besar, dengan konsekuensi yang juga jauh lebih besar, kepercayaan itu diberikan, dan tetap dengan gaya khasnya.
_________
SONY DSC
aku dan Abi ketika wisuda S3 di Unpad

 
aku tahu pasti Abi bukan tipe laki-laki yang romantis, yang gemar memberikan dan diberikan hadiah.  bukan pula sosok yang gemar bersyair atau membaca puisi prosa sastra. tak perlu momen untuk memberikan sesuatu, ketika memang perlu maka saat itu juga ketika memang bisa maka lakukan/kerjakan.
aku pun awalnya menganggap ada atau tidaknya ucapan, toh tidak akan ada banyak hal yang berubah, Abi di kantor pasti juga dirayakan, Ummi pun pasti setidaknya memberikan hadiah, dan entah aku merasa tak akan ada perbedaan berarti antara aku mengucapkan atau tidak, tapi jujur aku pribadi ingat beberapa momen di Siaware, pelatihan untuk mengenal lebih dalam diri sendiri, disana, aku semakin percaya bahwa untuk dapatkan hasil yang kita inginkan, ada berbagai cara yang bisa ditempuh.
tujuan dari tulisan sederhana malam ini tentu adalah ucapan, tapi lebih jauh, semoga lewat tulisan ini, dinding tak terlihat itu bisa semakin luluh, semoga meskipun diskusi atau cerita bukanlah budaya di keluarga, tapi hal itu perlahan bisa hadir dan jadi gaya baru kita.
 

Abi, Selamat ulang tahun ya.  semoga seiring bertambahnya usia, bertambah pula kebijaksanaan yang ada, semakin berkah usianya, semakin hebat dalam memimpin diberbagai tempat,

jaga kesehatan ya Abi, lembur segala macemnya diimbangi sama makan sayur dan buah, Mas Auf juga coba jaga kesehatan kok dari sekarang, jarang banget makan fastfood, olahraga sama Ummi pagi-pagi di hari sabtu, kan udah ada sepeda tuh.

Abi, kalo emang perlu, mobilnya dijual aja, ubah jadi investasi jangka panjang buat adik-adik, bentar lagi Mas Auf juga insya Allah lulus dan bisa bantu nyari uang buat keluarga,

Abi, tetep jaga idealismenya ya, Mas Auf meski gak paham betul gimana kondisinya, tapi yang Mas Auf tau posisi Abi di kantor bukanlah posisi yang sederhana, ada banyak pihak yang bersinggungan, Mas Auf percaya sepenuhnya dan Abi akan selalu jadi panutan Mas Auf dalam memimpin, bimbing Mas Auf juga ya biar bisa sehebat Abi,

Abi, di Siaware, Mas Auf diajarin untuk nyoba selalu jujur dan terbuka, maka sungguh seandainya tulisan ini justru membuat Abi kurang nyaman atau gak berkenan, bilang aja, gampang kok buat ngubah atau ngehapusnya..

Abi, Mas Auf percaya hari-hari kedepan gak akan jadi lebih mudah, karena pohon yang besar akan terus tumbuh dan anginnya juga akan semakin kencang, Mas Auf cuman bilang bahwa ada Mas Auf disini yang insya Allah akan selalu berusaha jadi yang terbaik buat Abi dan Ummi, kalau nanti ada keputusan atau cara yang Mas Auf ambil yang menurut Abi salah jangan ragu ya buat koreksi, sehebat apapun Mas Auf kelak, nasehat dari Abi dan Ummi akan selalu Mas Auf rindukan.

ya Allah, kuatkanlah langkah-langkah Abi, jagalah Abi dan Ummi dengan sebaik-baiknya penjagaan, hamba titipkan kedua orangtua hamba kepadaMu, sebab sehebat apapun hamba coba menjaga, hanya diriMu lah yang mampu menjamin semuanya, bahagiakan keduanya ya Rabb, ampunilah mereka jika terdapat kesalahan yang sengaja maupun tidak sengaja, bimbingkan keluarga kecil kami selalu menuju SurgaMu, izinkanlah aku jadi salah satu alasan mereka Engkau ridhoi masuk dalam SurgaMu, Kumpullah kami kelak di SurgaMu..

 
_____
ini ada sedikit video yang Mas Auf upload di youtube waktu Abi disertasi dulu.  semoga jadi inspirasi buat kita semua..  🙂
https://youtu.be/mtAJJmytk-U
 
 
 
 
 
 

Sapaan Pagi,untukmu UI.  :)


Hai UI!
apa kabar?  semoga dalam keadaan baik ya.
 
salam kenal, aku Aufar.
aku sekarang ada di tingkat tiga, jurusan manajemen, fakultas ekonomi dan bisnis.
 
UI,
sengaja kutulis surat ini sebagai ekspresi rinduku, sebab telah begitu lama aku ada di rumahmu, tapi tidak pernah sekalipun bertemu denganmu.
 
UI,
 
rumahmu luar biasa indah, aku yang jadi saksi bagaimana di pagi hari, embun dan matahari masih berpadu dengan manis menghiasi hidup kami, para mahasiswa yang bersyukur menjalani hidup dirumahmu.
 
UI,
aku ingin sedikit bercerita,
kemarin, aku kembali diuji.
satu proses yang secara garis besar ingin menilai seberapa pantas aku mencintaimu, seberapa aku bersyukur pernah mengenalmu. banyak orang bertanya, menguji bahkan meragukan atas berbagai alasan serta rencana yang kedepan akan coba kupersembahkan padamu.
 
UI, aku maju menjadi ketua orientasi kehidupan kampus, satu acara dimana kami berusaha menghadirkan kamu sebagai tokoh pada acara utama yang disajikan secara istimewa untuk tiap mahasiswa baru yang baru,
adik-adik manis yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di rumahmu.
 
UI, setelah proses itu aku lantas banyak berfikir, apakah memang aku layak memimpin prosesi ini?
 
ini bukan permainan, bukan cinta monyet yang bisa sewaktu-waktu pergi tanpa alasan. bukan pula perlombaan, bukan ajang kompetisi dimana selalu ada lawan dan kekalahan.
 
UI, kemarin aku semakin sadar bahwa untuk mengundangmu, butuh lebih dari sekedar seorang sosok yang fanatik kepadamu, aku.
sebab cinta kepadamu tidak lantas mampu mengundangmu seketika, kamu dengan sombongnya pernah berkata “aku hanya hadir saat sekumpulan orang dapat mencintaiku secara bersama-sama”
 
UI, aku mencintaimu, datanglah kelak di acara itu.
 
UI, kehadiranmu selalu kami tunggu, nasehat-nasehatmu akan jadi tenaga besar bagi kami untuk menghadapi dunia yang semakin tidak ramah ini,
 
aku janji akan kumpulkan mereka, orang-orang yang juga akan berusaha mencintaimu, sebisaku, semampuku.
 
apakah kamu mau membantuku?
 
 
dari aku yang merindukan hadirmu,
calon PO OKK UI 2016
Aufar
________
UI adalah inspirasi. UI adalah inovasi. UI adalah kreativitas tinggi. UI adalah solusi.
UI adalah kamu.
bantu aku menghadirkan UI kamu, UI butuh kita untuk jadi satu.
Bit.ly/GreatOKKUI16-PI untuk kamu yang ingin hadirkan UI dengan peran sebagai Pengurus Inti.
Bit.ly/GreatOKKUI16-BPH untuk kamu yang ingin hadirkan UI dengan peran sebagai Badan Pengurus Harian.
Pastikan kamu berperan dalam perjalanan ini, sebab kesempatan untuk hadirkan UI tidak akan pernah datang dua kali.
Siapapun kamu, apapun warnamu. Selama kamu percaya membangun UI adalah membangun Indonesia, bergabung dalam perjalanan ini akan kami pastikan jadi perjalanan yang istimewa.
🙂
*foto diambil dari PP WA Ammar Yasir, semoga dia suka.   :3

Bertahan

selalu suka dengan tulisan ini, jadi salah satu sumber tenaga ketika merasa tidak ada lagi seorang pun yang mampu mengerti dan memahami. membuat saya kembali yakin bahwa Tuhan selalu ada, dan akan terus memberikan pertolonganNya. sebab Tuhan tidak akan pernah memberikan beban melebihi kemampuan hambaNya.

catatan perjalanan : OKK UI 2016 (1)

tulisan ini dibuat malam hari, selepas proses Uji Kelayakan dan Kepatutan PO OKK UI 2016.
____
Malam ini jadi saksi, bagaimana lagi-lagi seorang Aufar ternyata masih jauh dari apa yang mungkin sering ia tampilkan jika berada di depan orang lain.
____
Ada banyak hal terjadi dalam kurun waktu hanya sekitar 12 jam terakhir.
Terutama di 6 jam terakhir.
Tapi sebetulnya, barangkali 12 jam terakhir ini menjadi lebih bermakna sebab ada rangkaian cerita sebelumnya, beberapa ratus jam yang jadi bagian penting sebagai pengantar.
gue lagi coba maju sebagai seorang ketua acara OKK UI, sebuah acara tingkat universitas yang melibatkan cukup banyak manusia.
kemarin malam adalah saksi bagaimana gue masihlah anak cupu yang baru bisa menggambarkan konsep secara kasar.
ada beberapa yang terjadi dan itu benar-benar, berharga.
ada orang yang hadir, mengutarakan niatan baik untuk turut serta bergabung, masuk dalam tim, menawarkan dirinya untuk tiap bantuan yang bisa ia berikan, jujur gue selalu luluh sama segala hal berciri volunteerism, tapi ternyata di perjalanan dia menciptakan dinamika yang gak terduga, belum lagi gimana sakitnya menerima penolakan-penolakan yang justu datang dari orang-orang yang elo kira bisa jadi orang-orang pertama yang siap berjuang tanpa banyak tanya, gak bakal pernah lupa segala macem dukungan gak terduga dari orang-orang yang sederhana, dari mereka yang sesimpel percaya sama diri elo, mereka yang berusaha ngasih apa yang mereka bisa kasih tanpa banyak basa-basi. dan lainnya.
gue selalu percaya, dan akan terus percaya, bahwa ada lebih banyak orang baik di dunia.
beberapa ratus jam kemarin menjadi saksi bagaimana atas segala keterbatasan sumberdaya manusia yang gue kenal, tetep hadir bantuan dan pada akhirnya bersyukur bisa tetep coba memberikan satu gagasan di momen UKK lisan.
____

apa jadinya jika orang-orang yang kamu kira bisa kamu andalkan ternyata justru berbalik dan melawan?
apa jadinya jika orang-orang yang kamu anggap tidak lebih baik darimu ternyata menyimpan potensi yang melampaui segala kemampuan yang kamu miliki?
apa jadinya jika mimpi sederhana di mata kita bisa memiliki makna yang berharga dimata yang lainnya?
sudah tepatkah kita menilai semuanya? sudah adakah dalam diri kita kemampuan untuk menentukan harga dari tiap laku perbuatan sekitar kita?

____
malam tadi jadi saksi, bahwa gue semakin yakin, sejatinya manusia bukanlah apa-apa, bukanlah siapa-siapa.
tugas manusia sejatinya hanya berusaha. gak ada secuil pun kehebatan yang dimiliki manusia untuk bisa lantas dengan sombong menilai hitam-putih sesuatu, mengendalikan akhir seolah ialah sang penentu.
 
segala dinamika yang ada didalamnya merupakan bagian dari proses penempaan Tuhan agar kita mampu naik ke level selanjutnya. elo yakin elo cukup keren dengan segala konsep dan gagasan? tunggu sampai tiba-tiba hadir orang yang dengan santai bisa bertanya dan membalikkan keadaan. elo yakin jaringan elo cukup kuat untuk menggerakkan setiap komponen untuk mencapai tujuan? tunggu sampai elo dengan sepasang mata elo langsung ngeliat gimana jaringan elo pada akhirnya masih begitu berantakan, masih belum dengan baik berhimpun dan tersatukan.
maka pada akhirnya justru itulah kelemahan sekaligus kekuatan manusia, sebagai hamba, kita tidak pernah bisa mengendalikan hasil akhir dari tiap usaha, maka tentu selalu ada campur tangan, maka tentu selalu hadir keajaiban, usaha manusia sejatinya adalah bagian dari “ritual” sesorang hamba untuk mendapatkan “tanda tangan” dari Yang Maha Kuasa, maka maknailah tiap “perjalanan” yang ada dengan sebaik-baiknya.

Dibawah Langit Asrama

12716148_160044287709842_8854761243432167203_o

Awan tak pernah berharap akan berubah menjadi tetesan, sebab bersama-sama dilangit baginya terasa begitu menyenangkan.
 

Menghabiskan tiga tahun pertama di pedalaman hutan Cinangka lalu singkat cerita ternyata berlanjut menjadi enam tahun, dan pada akhirnya menghabiskan kembali dua tahun dengan judul besar yang sama, asrama.
SMP-SMA di asrama Nurul Fikri, Serang, sebuah sekolah asrama yang jauh dari hiruk-pikuk kota, pagi bermandikan sinar mentari, tanpa polusi, tanpa bising peluit pak polisi.
Lepas SMA, masuk dalam rumah besar Universitas Indonesia, kembali dipertemukan dengan berbagai kesempatan dan pesona khas dunia mahasiswa, dinamika pergerakan serta dakwah islam kembali menyapa, dan disanalah singkat cerita kembali bergabung dalam sebuah tempat, kastil biru pelangi, Rumah Kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri.
Berada dalam satu tempat dengan beragam jenis manusia selalu menciptakan kisah yang tidak biasa, dan asrama, barangkali adalah ciptakan Tuhan yang sengaja dihadirkan di satu tempat tidak biasa dengan tujuan yang juga istimewa. Serang dan Depok, dua kota, dua asrama yang berbeda, dan disinilah sekarang aku masih berada.
 
 
11794158_10153527836650818_4101116009941652203_o
 

Tetesan tidak pernah berani menuntut lebih, sebab baginya langit sudah tempat tertinggi yang bisa ia raih.

 
60 hari kurang lebih waktu yang tersisa saat tulisan ini sedang dalam proses penyelesaian, waktu yang terlalu singkat untuk ciptakan momen-momen yang hangat, ya, kami sudah tiba di penghujung, sedang menyiapkan segala hal tentang pasca-kampus, berbicara mengenai pekerjaan, mengenai sektor mana yang kelak akan jadi tempat kami bermain dan bertahan.
Tentu ada banyak hal yang telah kami lakukan, terlalu banyak hingga tak lagi penting berapa persis jumlahnya, yang kami semua tahu dan sepakati, setiap hal yang kami lakukan bersama-sama adalah hal-hal paling bermakna. Ada yang bilang bahwa hidup adalah tentang pilihan dan pemaknaan atas tiap pilihan yang kita ambil, asrama ini mengajarkan untuk selalu memaknai tiap pilihan sebagai sebuah proses pembelajaran tanpa akhir.
Masih jelas dalam ingatan momen awal bersatu, dibawah panas terik yang sama kami berlatih baris berbaris, di dalam atap yang sama kami satu-satu menyebutkan nama, asal fakultas, angkatan dan beberapa identitas formal bagai sebuah perkenalan singkat sebuah anggota klub sepakbola yang baru terbentuk.
Memilih satu presiden, sebutan bagi kepala suku yang memimpin gerak kedepan, keluar satu nama, si rambut poni alay Yanis. Ah, masih jelas juga wajah-wajah yang dulu sempat mewarnai, ada Krishna si kamprut yang ceria, satu-satunya partner in crime sempurna yang bisa ngajarin cara ngadepin orang yang lebih tua dengan muka tanpa dosa, Geri, abang yang gue sayangi sepenuh hati, gaya bercanda khas dan ketawa yang gak tahu diri, Badur, ahli komputer yang menurut gue pribadi paling siap menghadapi kejamnya dunia paska kampus, desain yang bertenaga dan penuh makna, Giffari, beruang coklat hidup yang siap memberikan pelukan kapan saja, dibalik segala senyuman menghadapi banyak tantangan dan memiliki mimpi besar yang begitu mengesankan, wawasan luasnya sulit ditandingi oleh ksatria kebanyakan, Pudin, makhluk satu ini terlalu unik untuk hidup berasrama, meski bersama Jati selalu terlihat tergeletak tak berdaya di pembaringan namun diam-diam mengisi pos-pos penting dalam berbagai level organisasi kepanitiaan, Jati, dugong rusia yang hatinya rapuh dan gampang goyah karena melihat cewek cantik, gue rasa Jati perlu menyegerakan, Hegar, kalem, diam-diam menamatkan berbagai game RPG, dan disamping itu dakwah juga jadi laku utama, Bagas, well, yang gue kenal sampe titik ketika berpisah asrama, dia anak baik, hampir gak pernah keliatan lemah, dan selalu berusaha ngasih dan jadi yang terbaik dimanapun dan apapun kondisinya, Haykal, bos besar yang rela jadi “donatur” asrama dengan berbagai sharing fasilitas yang dia punya, terakhir Bagus, si kaku yang diem-diem menikung semua dari kita tepat di belokan terakhir, disaat masa-masa akhir pembinaan tiba-tiba meminta agar dijadikan alumni dini karena harus bertanggung jawab atas perasaan yang terlanjur meluap di dalam hati, iya dia menikah, padahal beberapa waktu sebelumnya kita masih naik gunung Prau bareng dan cerita banyak soal galau-galau alay masa-masa SMP-SMA dulu.
Kalau ditanya apa yang paling istimewa selama berada diasrama, gue akan jawab semua. Iya, semua hal yang ada disini istimewa.
Lebay sih, cuman gimana ya,  dengan segala kisah yang berhasil dicipta, baik-buruk, sedih-senang, berada bersama dalam satu atap dan menjalani hidup, menetap dan saling menjaga agar tidak ada yang redup, pada akhirnya ada gambar besar yang berhasil dilukis bersama, dengan segala kekurangan-kelebihan yang ada.
 
 
IMG_1747
 

Namun awan tahu betul hidup dalam kondisi yang sama, terus-menerus, hanya akan ciptakan kejenuhan, sebab sekadar bersama tanpa makna bukanlah tujuan.

 
Maka hari-hari selanjutnya pernah pula diisi oleh kisah-kisah drama-realita yang sungguh tidak sederhana, pertemuan-perpisahan seolah menjadi kombinasi hangat yang siap menyambut kita dalam beberapa bulan sekali, seolah ritual ini memang sengaja dibentuk demi menempa hati-hati kami.  Lebih lagi, berbagai mimpi bermekaran, tumbuh dan bertaburan, semua mimpi yang dulu hanya terucap di bibir sebagai kata-kata sederhana, banyak darinya yang besar menjadi realita.
Sosok-sosok penuh perjuangan-pengorbanan, merintis kastil biru sejak awal pendirian, berbekal semangat menciptakan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, rela meninggalkan berbagai hal yang sebetulnya terlihat lebih nikmat.  Ust. Musholi, Bang Bachtiar Firdaus, dan segenap jagoan di jajaran eksekutif pusat-regional yang sungguh dengan teladan mengajarkan arti penting kebermanfaatan, bahwa hidup ini berharga, bahwa mimpi besar harus diwujudkan bersama-sama, bahwa tak ada tujuan lain selain meraih ridho Allah subhanahu wataala.
 
Sampailah kita pada akhir-akhir masa pembinaan, namun jelas visi besar Rumah Kepemimpinan masih akan terus melekat dalam tiap langkah perjuangan, sebab berawal dari sini kita sejatinya telah berkomitmen untuk ditempa, sebab bermula dari sini mimpi besar itu insya Allah perlahan akan menjadi nyata dalam wujud peradaban.
 
 
yang bersyukur pernah hidup berasrama, Ihkam Aufar Zuhairi

hari ini

 apa yang sebenarnya kamu cari selama ini?
apa yang sejujurnya kamu kejar hingga mati?
apa yang sesungguhnya kamu jadikan energi ketika berlari?

 
24 Maret selalu jadi tanggal keramat. setidaknya itu persepsi yang kubangun selama beberapa waktu kebelakang.
disinilah salah satu waktu terbaik untukku berpikir ulang berbagai hal.
(bersambung)
 
 
 
 

percikan perasaan

DSC06113.JPG
Aku hanya ingin mengatakan, bahwa berada di dekatmu membuatku merasa nyaman, dan aku sangat tidak suka akan hal itu. Bukan, bukan karena kamu, semua karena aku. Aku yang masih jauh dari standar, membuatku tak mungkin bisa menjadi tempat bersandar.
Aku memang tidak peka, tapi kepekaan yang kumiliki lebih dari cukup untuk sekadar mengetahui apa yang mestinya ada dalam diriku sebagai modal awal untuk menyatakan perasaanku kepadamu.
Jelas kamu bukan penuntut, dari semua tutur katamu, kamu salah satu dari sedikit sahabat perempuanku yang berhati lembut (walaupun sahabat perempuanku juga sedikit). Namun aku sadar memiliki bukan sekadar perkara hari ini, tapi hari nanti. Bukan sekadar kita berdua, ini tentang hal besar yang ada di masing-masing dari kita.
Dari berbagai hal yang kudapati entah dari bacaan atau nasihat yang kuolah dari perkataan, kita membeli seseorang karena potensi yang ada di dalam diri mereka. Jujur saja, aku belum mampu benar melihat secara jelas potensi yang ada di dalam dirimu, namun bahkan dengan titik itu saja, aku telah terbeli olehmu.
Semoga saja, semoga saja aku tidak terbeli oleh kecantikan, atau kecerdasanmu, atau tingkah lakumu kala berhadapan dengan orang yang lebih tua dari dirimu, atau pola asuhmu pada anak-anak kecil yang terpaut usia cukup jauh darimu, atau dari caramu berjalan, atau dari caramu mengkombinasikan warna pakaian, ya, apapun itu, semoga saja bukan karena apa-apa yang telah tampak dihadapanku, sebab aku yakin jika itu yang sesungguhnya terjadi, tentu sekarang aku berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, sebab ya, jika itu kenyataannya, maka sungguh aku hanyalah seorang yang telah tertipu oleh apa yang tampak semata.
Ada yang bilang bahwa laki-laki memang tidak akan pernah mampu mengolah perasaan mereka sepenuhnya menjadi kalimat sederhana, tanyakan saja apa alasan ayah kita mencintai ibu kita, jawabannya tentu tidak akan pernah kita duga, laki-laki kabarnya memang begitu, berusaha mengekspresikan perasaannya lewat tindakan, sebab baginya cinta dan setia adalah kata kerja, tenaga yang membuatnya sanggup menjalani pagi hari yang bising dan penuh sesak ditengah himpitan kota untuk sekadar mengais rezeki bagi orang-orang yang mereka cinta, pulang tengah-tengah malam dan mampu bernafas lega saat membuka pintu dan ditenggoknya anak serta istri menunggu dengan setia di dalam rumah mereka yang sederhana.
Aku ingin menjadi laki-laki yang sedikit berbeda sebetulnya, toh apa salahnya jika tiap pagi aku ucapkan cinta?  padamu, pada anak-anak kita?
apa sulitnya sembari mengantarkan tidur anak-anak kita aku hadir dan sekadar bertanya bagaimana hari ini mereka jalani?  membagi cerita tentang apa yang juga kuhadapi?  monster berbentuk asap polusi, godaan berupa tahu tempe goreng yang kurang sehat?  bos atau bawahan yang mungkin hari itu membuat dinamika di tempat kerja?
***
aku hanya ingin mengatakan, sekalipun hari ini kenyamanan yang berhasil ada diantara kita sulit kutemukan penggantinya, tapi ada baiknya bagi kita untuk tetap saling menjaga. menjaga apa yang memang pantas dijaga dari masing-masing kita, sebab bukan rahasia bahwa cinta memiliki formula yang tidak bisa diduga, hari ini dan esok pagi mungkin cinta bisa mendominasi, tapi siapa yang menjamin lusa malam, minggu depan, kita masih memiliki porsi cinta yang sama?  dan siapa juga yang berani dengan mudah menyimpulkan bahwa kenyamanan yang kita temukan hari ini adalah cinta?
maka biarlah kepekaan ini tetap berada pada posisi yang sama, sebab jauh lebih baik bagi kita untuk tidak banyak menduga-duga, porsi kita adalah berusaha dan percaya pada rahasia indahNya.
karena dari awal kita tidak pernah benar-benar saling mengenali, tak ada salahnya untuk terus menjalani apa yang menurut kita memang menjadi apa yang kita sukai, sepanjang itu kita anggap baik dan membawa kebaikan, apapun itu, kelak ketika kita bertemu, tentu kita akan dengan mudah saling memahami dan menerima.
sebab aku tidak akan mau terbeli hanya karena apa yang terlihat oleh mata, sebaiknya akupun juga harus kembali menata apa yang hanya bisa dirasakan oleh hati,
sebab aku tidak ingin menjadi laki-laki yang kesulitan mengekspresikan perasaannya, aku akan terus berusaha untuk setidaknya menuangkan apa yang terjadi lewat kata-kata, maka terakhir, doakan aku untuk tetap bisa setia menuliskan, apapun, sebab akupun ingin agar kelak ketika aku berada dalam satu titik yang tidak lagi pernah sama, aku tetap bisa melihat siapa dan apa yang dulu pernah aku rasa.
dan kuharap kamupun melakukan hal yang sama, cinta.