negeri 1001 dongeng

tersebutlah sebuah negeri yang begitu indah,
kekayaan alam yang melimpah, manusia-manusia yang kuat serta ramah,
seluruh negeri kagum sekaligus menyimpan rasa iri yang berlipat pada negeri ini.
Tuhan Maha Adil,
negeri itu perlahan tapi pasti sedang menghadapi masalah yang sungguh tidak mudah.
negeri itu mulai disusupi pengkhianat.
lahir dari dalam, tumbuh dan dibesarkan oleh kebaikan negeri yang begitu hangat,
sayangnya para pengkhianat bahkan lupa masa-masa indah mereka,
yang mereka ingat hanya satu, jadilah penguasa apapun cara dan berapapun harganya.
menjadi penguasa adalah harga mati bagi mereka.
mengapa begitu?
para pengkhianat memiliki kesamaan,
mereka lupa tujuan utama mereka tercipta di dunia.
____
mengapa mereka disebut pengkhianat?
sebab mereka mulai menginjak orang lain untuk membuat posisi mereka lebih tinggi,
sebab mereka mulai merusak nilai-nilai bahkan kepercayaan berbagai pihak untuk membuat posisi mereka lebih nyaman,
sebab mereka mulai berani mengorbankan sesuatu yang membuat mereka tidak lagi menjadi manusia, yakni akal sehat serta hati yang hidup.
mereka kemudian semakin membesar, seolah semua noda yang mereka buat justru masuk dan menyerap kedalam diri mereka,
mereka menjadi buntalan noda, buntalan yang begitu besar hingga benar-benar membuat mereka semakin berbeda dengan manusia biasa.
mereka mulai mendapatkan sekaligus kehilangan semuanya,
mereka mulai mendapatkan tumpukan hormat sekaligus kehilangan rasa malu,
mereka mulai mendapatkan pangkat sekaligus kehilangan akal sehat,
mereka mulai mendapatkan gunungan harta,
gunungan yang luar biasa namun tetap membuat mereka merasa tidak cukup,
sebab nyata, hati mereka tidak lagi hidup.
benar-salah bisa dibeli,
baik-buruk tak penting lagi.
____
buntalan yang begitu besar, mengalahkan besarnya monster yang selama ini hanya ada dalam kartun anak-anak.
para buntalan ini lalu mulai membagi kekuasaan, besar badan mereka mulai membuat mereka risih jika berdekatan.
sesama buntalan namun sungguh mulai saling merasa tidak aman,
mereka saling membesar dengan cara yang sama, namun saling merasa dan menuduh soal siapa yang paling suci dan penuh noda.
ya,
para buntalan  lalu bersepakat untuk berdamai dengan cara membagi kuasa,
buntalan satu jadi jagoan pada urusan keamananan,
buntalan dua jadi raja pada urusan dagang serta hutang-piutang,
buntalan tiga jadi tokoh utama pada urusan birokrasi,
buntalan empat jadi pemain handal pada urusan politik dan lobby-lobby.
sial,
ada lebih dari seratus buntalan di negeri ini.
____
para buntalan tetaplah setumpuk noda yang mulai hilang keseimbangan,
besar badan pada akhirnya membuat mereka tetap saling bersenggolan.
beberapa buntalan mulai bertengkar,
ciptakan kegaduhan, ciptakan badai-badai besar diberbagai tempat.
buntalan tak pernah peduli soal manusia-manusia kecil yang terpaksa hidup dibawah kaki mereka,
semua masih sama, hanya tentang diri mereka.
negeri yang indah perlahan mulai kehilangan cahayanya,
redup sinar serta pudar warna-warninya.
negeri itu sekarang tidak lagi indah.
lebih parah,
pertengkaran para buntalan mulai memakan korban,
sialnya bukan buntalan yang berjatuhan,
manusia-manusia kecil mulai terinjak bahkan mati dibawah kaki serta tangan kotor mereka,
manusia yang tidak tahu banyak hal,
manusia yang masih percaya akan janji masa depan yang lebih baik.
manusia yang akhirnya terpaksa harus mati dengan ikut terkena noda yang berasal dari para buntalan.
____
manusia-manusia kecil yang sungguh menyedihkan,
bersyukur aku sejak lama telah pergi dari negeri itu,
ah,
tak penting kemana aku pergi,
ternyata semua negeri telah dimiliki oleh para buntalan,
dimanapun akan tetap sama,
hanya soal menunggu serta mengisi kematian saja.

catatan harian 3 : kita semua punya cerita yang berbeda

ada jeda cukup lama antara tulisan hari ini dengan tulisan terakhir,
sejujurnya sempat ada perasaan, “tuhkan gak konsisten, ngapain sih lagian kurang kerjaan amat”
tapi ketika coba dipikirkan lebih lama dan jernih, “apa salahnya?”
maka sebagai pengantar saya akan coba mengatakan secara terbuka bahwa saya sedang dalam proses perbaikan diri di banyak sisi, contoh sederhananya ya konsistensi dalam tulisan ini, gapapa ya.. hehe..
okay.
jadi kemarin itu, 11 April 2017, saya gak masuk kuliah, alasan terbesarnya adalah ngerasa gak punya motivasi apapun untuk masuk kelas dan alasan lainnya adalah karena telinga juga masih kurang enak (kemarinnya baru dari RSIP Bintaro),
seharian dirumah ternyata bosen juga ya, dan ada semacam renungan sederhana bahwa,
barangkali keluarga ideal juga bukan sebuah keluarga dimana seluruh anggotanya bisa terus-terusan hadir di rumah, bisa berkumpul makan siang, bisa ngobrol panjang-lebar sambil minum teh sore hari, tapi ya pada akhirnya kita harus paham bahwa justru dengan berbagai kesibukan masing-masing, ketika ada momen berkumpul itulah yang harus dirayakan seutuhnya. lagipula, apasih yang ideal di dunia ini? ahaha..
kayak kemarin itu seharian di rumah pun, Abi berangkat kantor dari pagi, Ocid terus pergi sekolah dan terakhir Ummi juga ngaji seharian, Ocid baru pulang (dan bawa temennya) sekitar jam setengah tiga, praktis rumah memang sepi ya hampir seharian, dan itu baru saya rasakan banget kemarin.
sorenya secara random saya menyapa Zha, anak saya di kastrat BEM UI 2015 dulu, katanya dia emang lagi kerja di daerah BSD dan secara jarak dari rumah artinya cuman ditempuh sekitar 15 menit aja (all hail tol BSD yang super mahal).
lebih random karena ngecek film di CGV Blitz dan ada satu judul yang bikin penasaran, Labuan Hati judulnya.
coba buka trailernya, fix pengen!

bayangin aja, Labuan Bajo, Pulau Komodo, dengan secara keindahan sunset, lautan, bukit, dan kapal-kapal kayunya benar-benar secara apik ditampilkan, belum dengan beberapa kalimat “setiap dari mereka punya kisah”, wahaha, sebagai seorang yang sangat terbeli dengan kalimat-kalimat semacam ini, saya pun akhirnya mengajak Zha untuk nonton film, dan dia ternyata lagi bisa.
saya pun coba merapihkan sedikit rencana dengan coba berangkat lebih dulu dan sekalian berencana untuk nge gym di teraskota, sudah lama penasaran sama celfit yang ada disini tapi selalu gak diniatin secara baik dan cuman berakhir dengan rasa penasaran.
jam lima lebih sedikit saya sampai, menaruh tas di loker terus jalan dulu ke bioskop untuk beli tiket, mengingat saya bukan pemilih bangku yang baik, saya selalu takut kalo beliin kursi bioskop karena emang sering fail, ahaha..
semua berjalan sampai dititik akhirnya ketemu sama Zha.
dan disanalah berbagai percakapan bermula,
mulai dari fakta bahwa dia sekarang jadi semacam asisten GM langsung, sibuk kesana-kemari dengan mobil VW nya, waah, baru bertemu setelah sekian lama itu ternyata benar-benar jadi semacam cara yang baik juga untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
yaampun anak ayah udah besar-besar ya sekarang.
dari sekian panjang yang kita habiskan sesorean sampai ditutup dengan makan di pasmod BSD itu, saya mendapatkan banyak banget insight yang menarik.

  1. bahwa saya sudah tidak layak lagi memanggil mereka anak-anakkuh, dan mereka rasanya juga gak pas lagi buat manggil saya ayah, ahaha..
  2. dari film, saya belajar betul bagaimana ada sosok-sosok yang belum berdamai dengan dirinya sendiri, sehingga selalu melihat keluar dan menyalahkan semua yang ada diluarnya, ada quotes keren dari suami Bia, kurang lebih, “ayo pulang.. masalah kamu itu aku, bukan disana.. pulang ya, aku tunggu kamu..”, dititik itu saya ngerasa tersentil.. saya secara sadar ataupun gak sadar dalam beberapa kejadian menghindari, bukan menghadapi, memilih lari dan pergi, memilih menyimpan kecewa dan kesedihan seorang diri dan tidak mau berbagi dengan siapapun, berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, bahkan untuk sekadar bercerita dalam doa kepada Tuhan pun kadang saya enggan.
  3. dari film, saya juga akhirnya terpicu kembali untuk mencintai Indonesia dengan lebih dalam, rasanya dulu pernah ada di titik yang ingin keliling Indonesia, menyelam diberbagai spot-spot keren yang mendunia, mendaki puncak-puncak tertinggi, aih, kemana semua itu?  ayolah, mumpung masih muda, mumpung belum ada yang bertanya, “kapan pulang sayang, aku kangen”, heuheu..
  4. dari film, saya sebetulnya sebel adegan-adegan tidak penting baju bikini, ciuman dan lainnya, cuman darisana juga saya dapat sisi lain bahwa ada banyak banget orang yang mungkin memang pada akhirnya hanya mengetahui bahwa itulah satu-satunya jalan yang bisa mereka tempuh kalau mereka berlibur, atau simpelnya untuk mengekspresikan dan mendapatkan bahagia versi mereka, ya mirip sama kalo dulu di waterpark, anak-anak kecil udah dikasih baju bikini sama orangtuanya kan?  akhirnya standar yang mereka pakai dan enjoy ya itu, dan gak ada seorang pun yang berani menegur atau setidaknya bilang, bahwa ada alternatif lain loh yang lebih sopan, pun dengan ekspresi cinta atau kebutuhan akan kasih sayang dari orang lain, karena terbiasa untuk selalu bersentuhan, hal-hal seperti ciuman, meski dengan orang yang baru dikenal, bisa saja jadi sesuatu yang memiliki alasan, sesimpel alasan “terbawa suasana”.
  5. dari Zha, saya dapetin suntikan luar biasa soal bagaimana kekayaan akan jadi suatu hal yang punya dampak nyata, kebaikan berlipat, ketika berada ditangan yang tepat.
  6. dari Zha juga saya belajar bahwa perencanaan dan fokus benar-benar jadi suatu daya tawar yang nyata bagi hubungan yang serius, dan saya rasa adalah konyol kalau saya justru yang awalnya sudah memiliki sekian panjang impian, perencanaan lantas jadi berantakan hanya gara-gara ada unsur perasaan yang sempat lewat disana.
  7. sebenarnya ada banyak, cuman ya segitu dulu ya, semoga saya bisa lebih cepat menulis dan mempublikasikannya, ini juga jadi pelajaran, jeda terlalu lama yang saya buat dari sejak tulisan ini ada di draft sampai keluar itu semata karena saya masih berpikir untuk coba menjadi sempurna, padahal daripada berfokus pada hasil, ada baiknya saya lebih coba membangun proses-proses yang terukur dan berkesinambungan.

catatan harian 2 : pertemuan sederhana

halo semua!
selamat siang,
hari ini tanggal 31 Maret 2017, akhir dari sebuah bulan yang seharusnya jadi waktu-waktu dimana saya bisa sejenak berkenalan kembali dengan diri saya, dan orang-orang disekitar saya.
gimana caranya?
well, saya kan ulang tahun tanggal 24, dan entah kenapa setiap menjelang atau sesudah waktu tersebut selalu saja ada  hal-hal yang ngebuat saya bisa sejenak berhenti dan berpikir ulang, contohnya salah satu yang saya sadari betul belakangan, saya segitu jarangnya mengucapkan selamat ulang tahun ke orang lain, padahal ada banyak banget orang yang masih peduli dengan ulang tahun saya.  huhu sedih..
hal-hal macem gitu yang terus membuat saya kembali coba perlahan ngebuat semacam komitmen alay,
ah pokoknya saya sekarang sebisa mungkin ngucapin deh, sebisa mungkin ngelakuin sesuatu yang sekalipun dimata saya sangat sederhana (iya suer bagi saya mah ngucapin gituan gak banget sebenernya), tapi pasti dimata orang yang bersangkutan hal itu jadi terasa istimewa.
saya juga jadi inget dulu banget pernah sok sok komitmen mau ngasih hadiah buku ke semua temen yang ulang tahun, tapi wacana, haha..
okelah ya.
jadi jeda antara tanggal 28 sampai hari ini saya isi dengan beberapa hal,
selain tidur,
saya di hari Rabu yang lalu sempat ke Depok buat ambil soal ujian MKK, berangkat gak pake mandi karena udah mandi jam enamnya (tapi tidur lagi, jadi tetep beler, ahaha), terus dimejanya ada Fathim yang galak tapi baik ngejagain buat tanda tangan, selesai ambil soal saya dengan gaul nge-gym (iya kamu tidak salah baca kok), sempet juga ngurus tagihan halokick saya yang gatau kenapa kok jebol bulan kemarin, nah yang menarik, saat di grapari ini ketemu sama Ma’ruf,
singkat cerita pertemuan sama Ma’ruf ngebuat saya ngedapetin insight soal dunia pasca kampus,
doi udah keterima di Telkom (gils cuy baru lulus kemaren padahal),
masuk jalur yang semacam MT, tapi yang jadi insight bagi gue sendiri adalah fakta bahwa persaingan yang cukup ketat itu ternyata bisa dijabarkan kurang lebih kedalam beberapa hal fundamental,
akademis, IPK mau gak mau diatas 3 itu udah semacam keharusan, mendingan lulus lama, poles dikit IPK, itusih yang saya dapatkan juga, karena kamu lulus berapa tahun itu jadi gak terlalu penting dimata perusahaan,
organisasi atau prestasi, Ma’ruf yang bilang sendiri bahwa dua hal ini bisa jadi saling melengkapi, artinya kalo emang kamu bukan orang yang suka sama dunia organisasi selama di kampus, ya punya prestasi itu udah semacam keharusan, dan lagi yang menarik juga, organisasi gak selamanya dipandang sebagai sebuah pencapaian yang tinggi (artinya sekadar jadi staf pun oke), tapi lebih kearah pandangan orang yang ikut organisasi itu ya seenggaknya udah biasa untuk ngerasain dinamika atas berbagai perbedaan dan hal-hal berbau softskill lainnya,
terus habis grapari dan gym, saya ketemu Nuzul~
Nuzul si anak jiwa volunteer yang sedikit overdosis sisi sosialnya,
jadi Nuzul ini sakit tipes, tapi karena emang kerjaannya ngebuat dia harus balik ke Bandung, akhirnya ya dia balik deh dari Depok, cuman sekitar 15-20 menit pertemuan sambil nemenin dia nungguin travel, dialog sederhana tapi ada satu yang keinget banget,
“eh gue mau keliling jawa nih..”
“yah gue udah pernah..”
“hah serius? naik mobil loh ini..”
“iya gue udah pernah, sampe NTB malah..”
“gils gaul banget lo ternyata..”
disana saya ngerasa saya ternyata sudah tertinggal cukup jauh dari sosok Nuzul ini.
Nuzul nih ya, benar-benar sosok yang kenal banget sama diri dia.
sedari awal terus di dunia sosial, skripsinya dia penelitian langsung ke suku Baduy di Banten sana, rela lulus telat demi skripsi yang cihuy,
dan sekarang lagi ngurus proyek sosial yang fokus sama anak-anak di Bandung.
dan dia ternyata udah jalan-jalan keliling jawa naik mobil.
saya ngerasa banget Nuzul ini sosok yang bisa secara tepat menikmati hidupnya.
ish gila ya kemana aja saya selama ini, haha..
dah selesai deh, travel Nuzul dateng, kita cipika-cipiki (boong deng, Nuzul gak romantis, ahaha)
habis itu saya jalan balik ke kontrakan, niatan awal emang mau beres-beres sekalian menghabiskan sedikit waktu,
singkat cerita di kontrakan mati lampu, dah deh jalan balik ke rumah aja.
saat jalan balik ini dapet momen menarik juga,
jadi karena gatau kenapa arah jalan tol itu macet, saya sok-sok inisiatif mau lewat Jatipadang, adzan magrib, ah coba sholat di Masjid samping jalan ah, dan ternyata Masjid ini cukup ramai!
kagum sama sisi religius masyarakat hari ini yang saya pribadi rasa sih semakin meningkat, mas-mas depan saya itu rambutnya gondrong abis, topinya dipake arah kebelakang gantiin peci kali ya, ada lagi macem bule gitu juga ikut sholat, sales-sales (yang ketauan dari baju yang dipakai), abang gojek-grab-uber, ish seneng..
selesai sholat, saya tiba-tiba kepikiran nonton, males gitu masih sore udah pulang ye kan (baca : pengen terlihat gaul. red), coba ngontak beberapa orang, akhirnya dapet 2 orang, Tari sama Azzam, yowes singkat cerita ketemu, makan blenger yang guede banget itu dan gak habis, terus ngobrol soal quarter life crisis, terus mau ke taman kota tapi ternyata kalo malem gak buka (perasaan dulu nyala-nyala), terus anter pulang deh ke Batan,
habis itu maleman jam sepuluh baru ketemu Azzam.
dan disinilah deep conversation terjadi (ceilah gaya beut pak)
kami berdua ngobrol kemana-mana,
mulai dari soal senior yang kerja di daerah tapi gaji dua digit tapi hidupnya kesita 120% kekerjaannya,
soal kawan-kawan lama dengan segala update kabar yang kita berdua terakhir tau,
soal bisnis, peluang, sampai urusan lain semisal percintaan yang alay dan sebagainya.
wah, seneng deh!
 
jam nunjukkin pukul 12.20 waktu akhirnya pulang karena paginya harus nganter ummi ke Bandara.
bersambung..
 

kita dan hati yang (tak) pernah selesai.

IMG_1132.JPG
ada satu adagium atau bahkan kredo yang belakangan begitu menarik saya, dan secara tidak sengaja beberapa kali bermunculan dengan cara yang berbeda.
jangan pernah mengukur sepatu mereka dengan sepatumu, itu berbeda.
jangan membenci seseorang hanya karena dia melakukan dosa yang tidak kita lakukan.
hey, kalimat ini bertenaga betul.
seringkali saya menilai seseorang atas apa yang pernah dia lakukan dalam hidupnya, atau kalau memang dia adalah seorang yang pernah berinteraksi dengan saya, entah dalam jangka pendek ataupun lebih lama, saya juga akan berusaha membangkitkan betul kenangan-kenangan yang ada didalamnya, baik-buruk, pahit-manis, menjadikan itu sebagai sebuah landasan atas sikap dan reaksi yang akan saya berikan saat berhadapan.
apakah itu cara yang benar dalam bersikap?
pipi saya seolah “ditepuk” berulang kali minggu-minggu ini,
“sentuhan” yang lambat-laun sampai pada hati, menyita pikiran lalu berubah jadi tenaga untuk berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan.
saya kemudian merasakan bahwa akan jauh lebih indah jika kita melakukan sesuatu karena memang kita ingin melakukan hal itu, terlepas dari kapan, dimana, siapa, dan sebagainya.
bukan berarti bebas tanpa batas,
dalam hal ini saya merasa akan jauh lebih baik jika kita bergerak atau melakukan suatu kebaikan tanpa melihat waktu, tempat serta sosok yang kita hadapi saat itu.
terdengar klise tapi itulah yang baru saya rasakan hari-hari ini.
terlambat?
barangkali iya.
tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
lagipula, perjalanan masih panjang kawan!
bukankah ini hanyalah satu dari sekian panjang episode yang akan kita jalani?
bukankah peran-peran kita hari ini seolah tidak ada artinya jika dibandingkan dengan peran-peran yang kita impikan di masa depan?
maka sungguh saya belajar betul jangan pernah menaruh harapan pada sesuatu, pada seseorang, pada sosok, pada hal-hal yang pasti dengan mudah mengecewakan.  mudah mengukurnya, potensi kecewa bisa lahir hampir dari seluruh yang kita punya.
maka sungguh mengolah rasa adalah satu bab yang barangkali akan terus menebal dan terasah seiring berjalannya waktu, sebab menata dan menjaga hanya dapat dilakukan oleh mereka yang telah berdamai dengan dirinya, telah selesai hatinya.
pilihan kita untuk diam, pilihan kita untuk bersuara,
pilihan kita untuk angkat tangan, pilihan kita untuk turun tangan,
atas tiap pilihan, semoga kita selalu dalam kebaikan dan keberkahan, selalu memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan.
sebab atas tiap pilihan akan selalu hadir konsekuensi yang kadang tidak pernah kita hitung sebelumnya,
sebab atas tiap pilihan yang kita ambil akan tampil sosok-situs-wahana, hal-hal baru yang semoga kita juga dianugerahi kemampuan untuk mengambil pelajaran didalamnya.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya saya tidak mungkin membuat semua orang bahagia.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya akan ada yang tidak suka, tidak peduli apa dan bagaimana kita telah berusaha, sebab mereka menilai dari sudut mereka berdiri, sebab mereka menilai hanya dari apa yang mereka ketahui.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya hidup ini bukan sekadar persoalan hubungan antar manusia, semua akan bermuara pada hubungan dengan Sang Pencipta.
jatuh bangunnya kita tidak akan sia-sia jika dalam tiap prosesnya Tuhan selalu kita libatkan.
pada akhirnya tujuan kita berjalan telah digariskan sejak awal kita diciptakan, kita diberikan kebebasan memilih seperti apa perjalanan yang akan membawa kita kesana.
 
img_1031
 
 

Mengelola dan menjaga harapan

Syahdan, terkisah perjalanan hidup setiap anak manusia generasi akhir zaman, dimana tiap dari mereka memiliki mimpi masa depan, salah satunya adalah meraih pendidikan paling tinggi di tempat terbaik di negeri ini.
Mereka berkompetisi, sikut kanan-kiri, injak bawah, pukul atas, jegal depan bahkan tak lupa meludah kebelakang. Kompetisi ini sistemik, tak bisa dilawan, tangguh atas berbagai perubahan. “Menguji agar mendapatkan yang terbaik, sebab hanya yang terbaik yang layak dan sanggup bertahan” , winner stand alone, itu kredo mereka. Podium hanya satu, hanya untuk yang nomor satu.
***
Pada tiap kompetisi, perlombaan seringkali di maknai sebagai hakikat sejati, berusaha jadi yang tercepat, terhebat, berusaha jadi roket yang paling melesat.
Maka sungguh, setiap anak dizaman ini dilalap dan kalap oleh kompetisi. Berusaha terus memberikan yang terbaik, menjadi yang terbaik, sampai tiba pada satu titik, 
lupa, 
apa sebetulnya esensi dari tiap laku perbuatan dalam hidup mereka.
***
Dalam tiap perlombaan, ada begitu banyak harapan yang digantungkan. Tertaut di bintang, tergantung diantara laut dan bulan yang terang.
Maka sejenak, atas berbagai kompetisi yang pernah kita lalui, atas berbagai perlombaan yang pernah kita alami, mari sejenak tengok sisi lain yang mungkin sudah lama tidak kita hargai.
Kalah. Menyerah. Marah. 
Dibuang. Ditendang. 
Kecewa, merasa semua sia-sia.
Sudah berapa kekalahan kita dapatkan? 
Sudah berapa banyak kesalahan yang membuat kita seolah kehilangan harapan?
Sudah sampaikah kita di titik persimpangan, merasa bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menutup buku lalu membuka lembaran baru?
Maka sungguh sahabat, saat dunia serasa tidak berpihak kepadamu, saat diri merasa tak seorang pun di dunia yang dapat mengertimu, saat ketakutan akan masa depan terus menghantui bersamaan dengan rasa sakit akan masa lalu, mari sejenak tengok kembali hatimu. Sudah berapa lama ia lupa kita hidupkan? 
Sudah berapa segmen kehidupan yang luput dari pemaknaan? 
Sudah berapa banyak kesalahan yang terjadi tanpa penyesalan? 
Sudah berapa banyak kebaikan yang terabaikan tanpa kekecewaan?
Sahabat, 
lantas atas semua renungan tadi, semua akan berujung pada satu pertanyaan sederhana, apakah, atau sejauh apa hidup kita dengan Sang Pencipta?
Sebab Dia lah yang sejatinya menciptakan diri ini, 
yang menghidupkan hati, 
yang menganugerahi hela nafas serta denyut jantung setiap hari.
Di depan sana, 
Insya Allah, 
Masih akan terhampar luas padang ketidak pastian, masih akan panjang langkah perjalanan, 
Tentu, kekecewaan, penolakan, kesedihan, dan berbagai badai kehidupan silih berganti akan menyapa, akan mengambil dan memberi berbagai pelajaran yang mungkin tak akan pernah kita duga.
Maka sungguh sahabat, mari terus sediakan ruang di dalam diri kita untuk menerima segala ketetapanNya dengan bijaksana, mari renungi sekali lagi firman Allah SWT yang mulia.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. (Mengapa?) Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Albaqarah: 216).
Maka jelas, jangan pernah berhenti berharap kepadaNya, berharap yang terbaik untuk diri kita, untuk orang-orang yang tumbuh bersama kita, untuk semua pihak yang bergerak di jalanNya.
Sebab sekalipun hidup akan terus menawarkan bahagia dan kecewa, 
meski kompetisi akan semakin tak terduga, meski perlombaan akan semakin menggila, meski hidup akan terus menawarkan kata henti dan lari, meski jiwa kadang meradang dan ingin pergi, 
selama kita saling menguatkan, selama kita selalu mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran,
Tak akan ada yang bisa menghentikan kita, sebab bersama Allah swt, kita akan terbang melangit ke angkasa, tak akan pernah berhenti, hingga maut akhirnya menyapa.
Masjid GTA, 23 Ramadhan, 2015
_________
Tepat hari ini di tahun lalu pernah menggoreskan tulisan “sekuat” ini.
Ya Rabb, izinkan serta ridhoi hamba untuk bisa jadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.   💕😇

Ulang Tahun Abi

SONY DSC
tulisan di lembar pengantar disertasi Abi

 
memulai tulisan ini tepat pukul 00.40 ditanggal 25 Mei 2016. barangkali, inilah momen seorang anak pertama akhirnya memberanikan diri, setelah sebelumnya mengumpulkan keberanian. dramatis, tapi itulah yang terjadi.
aku memanggil sosok itu Abi.  Ayah mungkin lebih sering terdengar tapi ya, Abi, adalah panggilan yang entah sejak kapan tersemat pada dia. sulit sejujurnya menjelaskan bagaimana Abi, yang jelas dari deheman suara, batuk yang dia tahan, atau bahkan sesimpel gaya ketika berbicara, dengan mudah aku akan mampu mengidentifikasinya.
2 hari yang lalu, tanggal 23 Mei, Abi ulangtahun. tak bisa hadir atau mengucapkan secara langsung karena tepat dihari yang sama ada welcoming staff OKK UI 2016 dimana aku menjadi ketuanya.
sejujurnya, Ummi pun sudah mengingatkan sehari sebelumnya, tapi lagi-lagi, butuh waktu untuk terlebih dahulu memikirkan lalu mengumpulkan keberanian.
mungkin banyak dari kalian yang akan bertanya, apa susahnya?  terlebih bagi seorang aku yang sebetulnya cukup santai dan supel dalam membawa suasana, tapi jujur, ini berbeda.
___________
SONY DSC
Abi, Faza dan Zahrin

barangkali cerita bisa berangkat dari hari ketika Faza, adik pertamaku ulang tahun. singkatnya, aku berikan Faza hadiah, tapi tiba-tiba, Zahrin adik kedua menangis keras, ternyata dia juga ingin diberikan hadiah, singkatnya, budaya memberikan, atau sesederhana merayakan ulang tahun, bukanlah budaya yang akrab di keluarga.
justru selepas momen itulah, beberapa hal berubah.
Ummi bahkan seingatku pernah membuat dan membacakan puisi khusus untuk Zahrin, dan jujur saja bahkan di momen itu aku juga sempat cemburu.
maka sungguh cerita singkat diatas semoga bisa sedikit menggambarkan bagaimana sulitnya menembus hal-hal kultural di keluarga, entah karena apa, yang kutahu, latar belakang keluarga yang cukup kuat dalam memegang agama, ditambah fakta bahwa Abi bukanlah sosok yang gemar bercerita, membuat hal-hal seremonial terasa begitu asing.
seingatku pun, aku baru pertama kali dirayakan ulang tahun oleh teman-teman SMP dulu di kelas satu, dikerjain habis-habisan, diakhirnya aku justru menangis karena terharu. ahaha..
mungkin jika hanya sekedar membaca cerita singkat diatas, dingin lagi kaku adalah dua sifat yang tepat untuk menggambarkan, tapi justru disinilah aku merasa perlu memberikan tambahan penjelasan.
______
ada banyak perubahan yang terjadi, dan Abi, dalam diamnya, dalam heningnya, aku sendiri merasakan bagaimana sesungguhnya dia begitu luarbiasa coba mengungkapkan kasih sayangnya kepada kami.
aku bahkan sampai pada titik merasa, bahwa “ekspresi cinta dan sayangnya orangtua memang unik lagi istimewa, kadang memang tidak sesuai dengan apa yang selama ini kita selaku anak harapkan, kadang justru ekspresi mereka adalah hal-hal yang dimata kita terlihat konyol dan aneh, maka sungguh memerlukan kedewasaan untuk memahaminya, untuk memaknainya.”
yang masih hangat misalnya, Abi ada raker di Jakarta, harus memberikan arahan jam delapan malam tepat,  dan posisinya Abi memang sedang disana serta harus menginap sekian hari, tapi tiba-tiba iseng saja aku pulang, tentu dengan lapor terlebih dahulu secara singkat “Mas Auf pulang ya, kangen”.  dan akhirnya, tanpa banyak kata pertemuan singkat dan sederhana dari jam lima sampai jam tujuh tercipta. hanya dua jam kebersamaan karena setelah itu Abi langsung kembali lagi ke tempat rakernya.
atau gaya abi yang tidak pernah menolak ketika misalnya aku mengajukan permintaan, tanggapan khasnya “hemm.. bagus..”  “ya.. adalagi?” atau “bilang Ummi dulu”, belum dengan gaya khas lain yang dalam diam ternyata merencanakan banyak hal, pergi ke Lombok tapi baru bilang H min tiga, berangkat mudik tanpa banyak rencana, yang ternyata dibalik berbagai serba mendadak itu ternyata tersimpan susunan rencana yang matang bahkan sampai lapis dua.
Abi itu auditor sejati. segalanya rapih dan teliti, nyaris semuanya memerlukan bukti. ditangan Abi mobil bisa muat begitu banyak barang untuk mudik, bahkan baris belakang bisa digunakan sebagai kasur untuk tidur bergantian sebagai supir, belum lagi soal penataan tempat-barang dirumah yang tak lepas dari detail khas Abi, belum jika membahas urusan uang yang memang terasa begitu detail, dulu saja ketika membeli laptop, budget yang diberikan hampir persis dengan spesifikasi yang aku tawarkan, tapi tentu karena akupun anak ekonomi, ada sisa yang bisa dimanfaatkan, hehe..
______
SONY DSC
tumben senyum :”)

dari Abi, aku belajar arti perjuangan dan pengorbanan.
pekerjaannya dikantor hampir tidak pernah menjadi konsumsi di rumah, tapi sungguh ketika main ke kantor, tumpukan berkas, telepon yang hampir selalu ditangan, dan bude Yayuk yang sibuk masuk-keluar ruangan untuk mengantarkan atau menyampaikan informasi.  rapat, bertemu. ah entahlah, aku pun kadang berpikir dibandingkan segala bebanku sebagai mahasiswa, dunia paskampus itu memang sungguh begitu besar lagi berat adanya.
dan nyaris tanpa keluhan!
ada momen yang begitu terkenang saat dulu aku ingin masuk SBM ITB, uang kuliahnya yang begitu mahal membuatku ragu lantas bertanya, tapi justru jawaban “urusan Mas Auf itu kuliah, masalah bayaran itu biar Abi yang ngurus..” jadi satu kalimat sederhana yang begitu membekas sampai hari ini.
berbicara mengenai momen, masih ingat juga ketika dulu, entah SD/SMP, momen dimana berbagai keluhanku justru dibalas dengan kutipan ayat ketujuh di surat Ibrahim, “Wa iz ta’azzana rabbukum la’in syakartum la’azidannakum wa la’in kafartum inna ‘azaa_bi lasyadid”. bersyukur Mas, masih banyak yang bisa disyukuri!
_____
SONY DSC
Abi dan Ummi

Abi dan Ummi, karakter keduanya sungguh unik dan berbeda.  tapi poinku disini justru ingin menyoroti hal lain yang mereka berikan kepadaku, kepercayaan.
ada banyak limpahan kepercayaan yang aku rasakan selepas aku masuk ke dunia perkuliahan. dari mulai fasilitas yang “naik level” dari dulunya begitu sulit bahkan untuk sekadar meminta uang jajan lebih, perlahan tapi pasti bertambah kearah lain, bahkan aku pun kadang masih heran pada akhirnya mobil jadi salah transportasi utama yang kugunakan.
yang lebih dari fasilitas bagiku, adalah bagaimana izin, kerelaan mereka terkait berbagai keputusan besar yang aku ambil.  masih ingat juga dengan jelas ketika dulu sempat maju dalam ajang pemira fakultas, meski mengetahui bahwa kemungkinan menang begitu kecil sebab peserta lainnya adalah senior, meski mengetahui bahwa resiko besar maju itu salah satunya adalah akademis yang terkorbankan, meski mengetahui ada biaya yang cukup besar yang harus disiapkan diluar kebutuhan bulanan, semuanya diberikan.
dan sekarang pun, ketika pada akhirnya aku menyatakan keinginan untuk sekali lagi berkontribusi pada level yang lebih besar, dengan konsekuensi yang juga jauh lebih besar, kepercayaan itu diberikan, dan tetap dengan gaya khasnya.
_________
SONY DSC
aku dan Abi ketika wisuda S3 di Unpad

 
aku tahu pasti Abi bukan tipe laki-laki yang romantis, yang gemar memberikan dan diberikan hadiah.  bukan pula sosok yang gemar bersyair atau membaca puisi prosa sastra. tak perlu momen untuk memberikan sesuatu, ketika memang perlu maka saat itu juga ketika memang bisa maka lakukan/kerjakan.
aku pun awalnya menganggap ada atau tidaknya ucapan, toh tidak akan ada banyak hal yang berubah, Abi di kantor pasti juga dirayakan, Ummi pun pasti setidaknya memberikan hadiah, dan entah aku merasa tak akan ada perbedaan berarti antara aku mengucapkan atau tidak, tapi jujur aku pribadi ingat beberapa momen di Siaware, pelatihan untuk mengenal lebih dalam diri sendiri, disana, aku semakin percaya bahwa untuk dapatkan hasil yang kita inginkan, ada berbagai cara yang bisa ditempuh.
tujuan dari tulisan sederhana malam ini tentu adalah ucapan, tapi lebih jauh, semoga lewat tulisan ini, dinding tak terlihat itu bisa semakin luluh, semoga meskipun diskusi atau cerita bukanlah budaya di keluarga, tapi hal itu perlahan bisa hadir dan jadi gaya baru kita.
 

Abi, Selamat ulang tahun ya.  semoga seiring bertambahnya usia, bertambah pula kebijaksanaan yang ada, semakin berkah usianya, semakin hebat dalam memimpin diberbagai tempat,

jaga kesehatan ya Abi, lembur segala macemnya diimbangi sama makan sayur dan buah, Mas Auf juga coba jaga kesehatan kok dari sekarang, jarang banget makan fastfood, olahraga sama Ummi pagi-pagi di hari sabtu, kan udah ada sepeda tuh.

Abi, kalo emang perlu, mobilnya dijual aja, ubah jadi investasi jangka panjang buat adik-adik, bentar lagi Mas Auf juga insya Allah lulus dan bisa bantu nyari uang buat keluarga,

Abi, tetep jaga idealismenya ya, Mas Auf meski gak paham betul gimana kondisinya, tapi yang Mas Auf tau posisi Abi di kantor bukanlah posisi yang sederhana, ada banyak pihak yang bersinggungan, Mas Auf percaya sepenuhnya dan Abi akan selalu jadi panutan Mas Auf dalam memimpin, bimbing Mas Auf juga ya biar bisa sehebat Abi,

Abi, di Siaware, Mas Auf diajarin untuk nyoba selalu jujur dan terbuka, maka sungguh seandainya tulisan ini justru membuat Abi kurang nyaman atau gak berkenan, bilang aja, gampang kok buat ngubah atau ngehapusnya..

Abi, Mas Auf percaya hari-hari kedepan gak akan jadi lebih mudah, karena pohon yang besar akan terus tumbuh dan anginnya juga akan semakin kencang, Mas Auf cuman bilang bahwa ada Mas Auf disini yang insya Allah akan selalu berusaha jadi yang terbaik buat Abi dan Ummi, kalau nanti ada keputusan atau cara yang Mas Auf ambil yang menurut Abi salah jangan ragu ya buat koreksi, sehebat apapun Mas Auf kelak, nasehat dari Abi dan Ummi akan selalu Mas Auf rindukan.

ya Allah, kuatkanlah langkah-langkah Abi, jagalah Abi dan Ummi dengan sebaik-baiknya penjagaan, hamba titipkan kedua orangtua hamba kepadaMu, sebab sehebat apapun hamba coba menjaga, hanya diriMu lah yang mampu menjamin semuanya, bahagiakan keduanya ya Rabb, ampunilah mereka jika terdapat kesalahan yang sengaja maupun tidak sengaja, bimbingkan keluarga kecil kami selalu menuju SurgaMu, izinkanlah aku jadi salah satu alasan mereka Engkau ridhoi masuk dalam SurgaMu, Kumpullah kami kelak di SurgaMu..

 
_____
ini ada sedikit video yang Mas Auf upload di youtube waktu Abi disertasi dulu.  semoga jadi inspirasi buat kita semua..  🙂
https://youtu.be/mtAJJmytk-U
 
 
 
 
 
 

Sapaan Pagi,untukmu UI.  :)


Hai UI!
apa kabar?  semoga dalam keadaan baik ya.
 
salam kenal, aku Aufar.
aku sekarang ada di tingkat tiga, jurusan manajemen, fakultas ekonomi dan bisnis.
 
UI,
sengaja kutulis surat ini sebagai ekspresi rinduku, sebab telah begitu lama aku ada di rumahmu, tapi tidak pernah sekalipun bertemu denganmu.
 
UI,
 
rumahmu luar biasa indah, aku yang jadi saksi bagaimana di pagi hari, embun dan matahari masih berpadu dengan manis menghiasi hidup kami, para mahasiswa yang bersyukur menjalani hidup dirumahmu.
 
UI,
aku ingin sedikit bercerita,
kemarin, aku kembali diuji.
satu proses yang secara garis besar ingin menilai seberapa pantas aku mencintaimu, seberapa aku bersyukur pernah mengenalmu. banyak orang bertanya, menguji bahkan meragukan atas berbagai alasan serta rencana yang kedepan akan coba kupersembahkan padamu.
 
UI, aku maju menjadi ketua orientasi kehidupan kampus, satu acara dimana kami berusaha menghadirkan kamu sebagai tokoh pada acara utama yang disajikan secara istimewa untuk tiap mahasiswa baru yang baru,
adik-adik manis yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di rumahmu.
 
UI, setelah proses itu aku lantas banyak berfikir, apakah memang aku layak memimpin prosesi ini?
 
ini bukan permainan, bukan cinta monyet yang bisa sewaktu-waktu pergi tanpa alasan. bukan pula perlombaan, bukan ajang kompetisi dimana selalu ada lawan dan kekalahan.
 
UI, kemarin aku semakin sadar bahwa untuk mengundangmu, butuh lebih dari sekedar seorang sosok yang fanatik kepadamu, aku.
sebab cinta kepadamu tidak lantas mampu mengundangmu seketika, kamu dengan sombongnya pernah berkata “aku hanya hadir saat sekumpulan orang dapat mencintaiku secara bersama-sama”
 
UI, aku mencintaimu, datanglah kelak di acara itu.
 
UI, kehadiranmu selalu kami tunggu, nasehat-nasehatmu akan jadi tenaga besar bagi kami untuk menghadapi dunia yang semakin tidak ramah ini,
 
aku janji akan kumpulkan mereka, orang-orang yang juga akan berusaha mencintaimu, sebisaku, semampuku.
 
apakah kamu mau membantuku?
 
 
dari aku yang merindukan hadirmu,
calon PO OKK UI 2016
Aufar
________
UI adalah inspirasi. UI adalah inovasi. UI adalah kreativitas tinggi. UI adalah solusi.
UI adalah kamu.
bantu aku menghadirkan UI kamu, UI butuh kita untuk jadi satu.
Bit.ly/GreatOKKUI16-PI untuk kamu yang ingin hadirkan UI dengan peran sebagai Pengurus Inti.
Bit.ly/GreatOKKUI16-BPH untuk kamu yang ingin hadirkan UI dengan peran sebagai Badan Pengurus Harian.
Pastikan kamu berperan dalam perjalanan ini, sebab kesempatan untuk hadirkan UI tidak akan pernah datang dua kali.
Siapapun kamu, apapun warnamu. Selama kamu percaya membangun UI adalah membangun Indonesia, bergabung dalam perjalanan ini akan kami pastikan jadi perjalanan yang istimewa.
🙂
*foto diambil dari PP WA Ammar Yasir, semoga dia suka.   :3

Bertahan

selalu suka dengan tulisan ini, jadi salah satu sumber tenaga ketika merasa tidak ada lagi seorang pun yang mampu mengerti dan memahami. membuat saya kembali yakin bahwa Tuhan selalu ada, dan akan terus memberikan pertolonganNya. sebab Tuhan tidak akan pernah memberikan beban melebihi kemampuan hambaNya.

catatan perjalanan : OKK UI 2016 (1)

tulisan ini dibuat malam hari, selepas proses Uji Kelayakan dan Kepatutan PO OKK UI 2016.
____
Malam ini jadi saksi, bagaimana lagi-lagi seorang Aufar ternyata masih jauh dari apa yang mungkin sering ia tampilkan jika berada di depan orang lain.
____
Ada banyak hal terjadi dalam kurun waktu hanya sekitar 12 jam terakhir.
Terutama di 6 jam terakhir.
Tapi sebetulnya, barangkali 12 jam terakhir ini menjadi lebih bermakna sebab ada rangkaian cerita sebelumnya, beberapa ratus jam yang jadi bagian penting sebagai pengantar.
gue lagi coba maju sebagai seorang ketua acara OKK UI, sebuah acara tingkat universitas yang melibatkan cukup banyak manusia.
kemarin malam adalah saksi bagaimana gue masihlah anak cupu yang baru bisa menggambarkan konsep secara kasar.
ada beberapa yang terjadi dan itu benar-benar, berharga.
ada orang yang hadir, mengutarakan niatan baik untuk turut serta bergabung, masuk dalam tim, menawarkan dirinya untuk tiap bantuan yang bisa ia berikan, jujur gue selalu luluh sama segala hal berciri volunteerism, tapi ternyata di perjalanan dia menciptakan dinamika yang gak terduga, belum lagi gimana sakitnya menerima penolakan-penolakan yang justu datang dari orang-orang yang elo kira bisa jadi orang-orang pertama yang siap berjuang tanpa banyak tanya, gak bakal pernah lupa segala macem dukungan gak terduga dari orang-orang yang sederhana, dari mereka yang sesimpel percaya sama diri elo, mereka yang berusaha ngasih apa yang mereka bisa kasih tanpa banyak basa-basi. dan lainnya.
gue selalu percaya, dan akan terus percaya, bahwa ada lebih banyak orang baik di dunia.
beberapa ratus jam kemarin menjadi saksi bagaimana atas segala keterbatasan sumberdaya manusia yang gue kenal, tetep hadir bantuan dan pada akhirnya bersyukur bisa tetep coba memberikan satu gagasan di momen UKK lisan.
____

apa jadinya jika orang-orang yang kamu kira bisa kamu andalkan ternyata justru berbalik dan melawan?
apa jadinya jika orang-orang yang kamu anggap tidak lebih baik darimu ternyata menyimpan potensi yang melampaui segala kemampuan yang kamu miliki?
apa jadinya jika mimpi sederhana di mata kita bisa memiliki makna yang berharga dimata yang lainnya?
sudah tepatkah kita menilai semuanya? sudah adakah dalam diri kita kemampuan untuk menentukan harga dari tiap laku perbuatan sekitar kita?

____
malam tadi jadi saksi, bahwa gue semakin yakin, sejatinya manusia bukanlah apa-apa, bukanlah siapa-siapa.
tugas manusia sejatinya hanya berusaha. gak ada secuil pun kehebatan yang dimiliki manusia untuk bisa lantas dengan sombong menilai hitam-putih sesuatu, mengendalikan akhir seolah ialah sang penentu.
 
segala dinamika yang ada didalamnya merupakan bagian dari proses penempaan Tuhan agar kita mampu naik ke level selanjutnya. elo yakin elo cukup keren dengan segala konsep dan gagasan? tunggu sampai tiba-tiba hadir orang yang dengan santai bisa bertanya dan membalikkan keadaan. elo yakin jaringan elo cukup kuat untuk menggerakkan setiap komponen untuk mencapai tujuan? tunggu sampai elo dengan sepasang mata elo langsung ngeliat gimana jaringan elo pada akhirnya masih begitu berantakan, masih belum dengan baik berhimpun dan tersatukan.
maka pada akhirnya justru itulah kelemahan sekaligus kekuatan manusia, sebagai hamba, kita tidak pernah bisa mengendalikan hasil akhir dari tiap usaha, maka tentu selalu ada campur tangan, maka tentu selalu hadir keajaiban, usaha manusia sejatinya adalah bagian dari “ritual” sesorang hamba untuk mendapatkan “tanda tangan” dari Yang Maha Kuasa, maka maknailah tiap “perjalanan” yang ada dengan sebaik-baiknya.