kaptenmu

kita telah merapat di dermaga,
meski belum sempurna, tidak ada larangan untuk sekadar pergi berjalan menyusuri pantai.
sendiri atau berdua, dengan pasangan atau jadi orang ketiga.
nikmatilah pasir-pasir putih yang begitu lembut di telapak,
berjalan santai ditemani deburan ombak.
kaptenmu ini juga awalnya ingin menemani,
perjalanan kita kemarin belum mampu memperlihatkan seutuhnya kapten itu seperti apa.
maafkan,
kaptenmu ternyata memiliki badai dalam dirinya.
alih-alih menemani, aku lantas kunci satu ruangan kecil dalam bahtera kita.
alih-alih bersama bernyanyi ruang sendiri, aku justru benar-benar ciptakan jarak yang tidak biasa.
hari ini aku keluar dari ruangan itu,
telah kutanggalkan baju kebesaran serta jabatan,
aku hanya ingin kembali, telah kukendalikan badai-badai ini.
aku belajar, badai hanya bisa dikendalikan oleh mereka yang telah mengendalikan dirinya,
badai tidak bisa diusir, sebab ia bagian dari apa yang kita cinta,
badai tidak mengecil karena usaha kita, badai mengecil karena Tuhan melihat kita telah berusaha.
selamat pagi semuanya.
selamat mengendalikan badai-badai dalam hidup kita.

hari-hari ini dan kehangatan kita yang lalu

hari-hari ini Tuhan barangkali sedang meminjam kehangatan diantara kita,
sengaja Ia genggam sebab Ia rasa kita tak sedang membutuhkannya,
Tuhan tak mungkin salah, apa yang Ia berikan pastilah sebuah anugerah.
 

SONY DSC
SONY DSC

barangkali hari-hari ini kita kembali beku,
menjadi orang-orang asing yang memiliki kesamaan masa lalu,
aku tak bisa melawan, tak juga sanggup berangkulan.
kali ini aku tak mampu berjalan di depan,
kita semua memiliki peperangan dan hari-hari ini aku sedang jadi korban,
nampaknya perang dalam diri kali ini sulit diajak berdamai dengan cepat,
jangankan melesat bahkan sekarang terasa berat untuk sekadar berjalan lambat.
 
berani menerbitkan ungkapan sederhana ini saja sekarang sudah jadi prestasi bagiku,
butuh tenaga dari goresan luka, pekatnya rindu, serta air mata yang mulai mengering.
hari-hari ini jangan harapkan aku bisa kembali jadi kemarin,
untuk buka suara saja mulutku langsung terasa asin.

renungan bulan baru

278658.png

 
kita seringkali berharap akan menemukan percakapan yang bermutu, sapaan yang hangat, teguran yang ramah.
kita seringkali berharap akan mendapati sahabat yang pengertian, teman yang bijaksana, rekan yang sabar dan perhatian.
kita seringkali berharap ada dalam pusat kebaikan, titik tekan produktifitas, fokus pada kebermanfaatan.
ah,
kita terlalu sering berharap.
kita terlalu sering berharap sampai lupa atau setidaknya luput dari perhatian kita bahwa setiap harapan memiliki harga.
silahkan gantungkan harapan tinggi, setinggi bintang kata orang.
silahkan tambatkan harapan begitu dalam, sedalam lautan kata orang.
tapi ingat,
ingat bahwa setiap harapan memiliki harga yang pantas.
sebab kesempatan tak akan pernah berharga tanpa persiapan yang tuntas.
sudahkah engkau berusaha untuk selalu memilah-memilih isi percakapan?
sudahkan engkau berusaha untuk menyapa seseorang dengan penuh ketulusan?
sudahkah engkau berusaha untuk menegur seseorang dengan mengesampingkan apa yang kau rasakan?
sudahkah engkau berusaha untuk berada di posisi sahabatmu?
sudahkah engkau berusaha untuk dewasa saat mendengar cerita dari temanmu?
sudahkah engkau berusaha meredam amarah dan mencurahkan perhatian kepada rekanmu?
sudahkah engkau berusaha berbuat baik dimana saja?
sudahkah engkau mengerjakan segala amanah tanpa menunda-nunda?
sudahkah engkau tuntas akan ekspetasi serta apresiasi dan berfokus pada senyum tulus tiap manusia?
bulan masih cukup tinggi, cukup terang,
kawan, mari perbaharui janji, malam masih panjang.

kepergian


seiring berjalannya waktu, pergi dan meninggalkan barangkali adalah sekadar soal urutan acak yang tak tentu, siapa yang lebih dahulu, siapa yang akan hidup lebih lama dengan mengenggam rasa rindu.
kawan, pada dasarnya pertemuan dan perpisahan adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan, sebagaimana jika kita berjalan, pasti akan ada jejak yang ditinggalkan.
hari ini, salah seorang sahabat dekat memberikan kabar, Ayahnya meninggal tepat pukul 10.50 malam kemarin.
kamu tahu, dia anak yang begitu baik, anak terakhir dari tiga bersaudara, namun selalu sukses memimpin dan mengatur berbagai hal dalam keluarganya. sehari-hari menjaga toko yang masih satu atap dengan rumahnya, mengatur beberapa karyawan dan hafal dengan mudah seluruh pelanggan beserta alamat pengirimannya. rela meninggalkan dunia daki-mendaki gunung kala orangtuanya kurang berkenan, rela mengambil kuliah malam saat di jam yang sama kebanyakan anak seusianya justru sedang asik mencari tempat makan bersama teman, bercanda dengan gaya khas anak Jakarta padahal asli dan lahir di tanah Jawa.
sakitnya memang sudah sedari lama, beberapa kali sempat bermain bahkan menginap, cerita tentang kondisi Ayahnya sempat tersisip satu-dua, meskipun begitu, dia selalu pandai bertutur kata dengan ceria, satu keunggulan yang barangkali hanya dimiliki segelintir dari kita.
pagi tadi, sepagi yang kubisa, aku datang dengan penuh tanya, meski sudah beberapa kali hadir dalam prosesi semacam ini, kepergian orang tercinta dari sahabat dekat bukan satu hal yang aku akrab dan mampu menghadapinya.
setidaknya aku hadir untuk menghibur..
sesederhana itu yang kupikirkan.
maka pertemuan awal itu terjadi juga dengan sederhana.
berpelukan. respon pertama justru ucapan terima kasih dari dia. respon yang sukses membuat kehilangan beberapa kata,
tidak kawan, barangkali hanya ini yang baru bisa aku berikan, sekadar kehadiran.
pada akhirnya hanya,
“yang tabah ya, insya Allah ini yang terbaik bagi semua..”
“iya.. terima kasih, eh udah sarapan?”
dan lagi-lagi dia justru yang mampu memecahkan suasana dengan cepat.
***
siang sekitar pukul sepuluh, Masjid ramai,
“…pembina Masjid kita.. yang setia dari tahun ke tahun membimbing dan mengarahkan..  mengembangkan dan mencurahkan dengan penuh keikhlasan..”
sepotong sambutan dari pengurus Masjid sukses membuat suasana semakin haru, aku yang sebetulnya tidak mengenal terlalu jauh juga terhanyut oleh suasana itu.
kalau nanti aku meninggal, akan di kenang seperti aku kelak?
***
dia hampir mengurus segala prosesnya, menjadi yang ditanya orang tentang letak posisi tenda, pengiriman ambulance, fotokopi surat dan urusann administrasi, bahkan aku pun turut sedikit membantu memasukkan beberapa lembaran uang ke dalam amplop,
“budaya disini emang gitu Up, udah ikutin aja, pendatang mah hargain adat setempat aja..”
lokasi pemakaman cukup dekat, tempat yang disekelilingnya sudah berdiri dengan gagah gedung-gedung strategis daerah Mega Kuningan.
dia sendiri yang turun ke liang lahat, mengatur posisi Ayahanda, mengambil beberapa genggaman tanah untuk mengganjal posisi-posisi tertentu sesuai arahan dari beberapa orang dari atas kuburan.
sungguh, betapa tangguh anak ini.
dan momen itu,
dengan lirih adzan dan iqamah dikumandangkan oleh dia,
suara lirih yang dihiasi beberapa air mata,
momen dimana kembali mengingat bahwa sejatinya hidup kita begitu singkat,
kita hanya diminta berjalan, bersusah payah di antara jeda adzan dan iqamah.
***
“angkatan ini masih akan menjalani berbagai momen kehidupan, insya Allah, masih panjang jalan kita bersama.  beberapa waktu lagi, ada yang akan segera lulus menjadi sarjana, lalu nanti beramai-ramai jadi para pencari kerja, lalu beberapa akan susul-menyusul mengirimkan undangan, bersama pasangan membentuk keluarga idaman, nanti kita akan sama-sama cemas saat kelahiran anak pertama, bahagia mendengar tangis pertama anak kita, kita akan berjuang mencari penghasilan demi cicilan rumah, kendaraan, serta pendidikan dan segala pernak-pernik khas keluarga, nanti kita insya Allah masih akan reunian, tukar cerita, saling sharing mulai dari susu yang cocok bagi anak sampai mungkin rencana naik haji dan mimpi-mimpi lain yang juga cukup tinggi, dan kelak, pada saatnya, satu persatu dari kita akan pergi, berpamitan dengan cara kita masing-masing.  ingat kawan, tagline sederhana angkatan kita, ‘tiga tahun kita bersama, selamanya kita bersaudara’, adalah janji yang akan kita bawa, dan ingatlah bahwa hakikatnya kita harus saling menguatkan, berjuang hingga kelak kembali bersama dapat menyelenggarakan kembali reuni di SurgaNya”