kita dan hati yang (tak) pernah selesai.

IMG_1132.JPG
ada satu adagium atau bahkan kredo yang belakangan begitu menarik saya, dan secara tidak sengaja beberapa kali bermunculan dengan cara yang berbeda.
jangan pernah mengukur sepatu mereka dengan sepatumu, itu berbeda.
jangan membenci seseorang hanya karena dia melakukan dosa yang tidak kita lakukan.
hey, kalimat ini bertenaga betul.
seringkali saya menilai seseorang atas apa yang pernah dia lakukan dalam hidupnya, atau kalau memang dia adalah seorang yang pernah berinteraksi dengan saya, entah dalam jangka pendek ataupun lebih lama, saya juga akan berusaha membangkitkan betul kenangan-kenangan yang ada didalamnya, baik-buruk, pahit-manis, menjadikan itu sebagai sebuah landasan atas sikap dan reaksi yang akan saya berikan saat berhadapan.
apakah itu cara yang benar dalam bersikap?
pipi saya seolah “ditepuk” berulang kali minggu-minggu ini,
“sentuhan” yang lambat-laun sampai pada hati, menyita pikiran lalu berubah jadi tenaga untuk berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan.
saya kemudian merasakan bahwa akan jauh lebih indah jika kita melakukan sesuatu karena memang kita ingin melakukan hal itu, terlepas dari kapan, dimana, siapa, dan sebagainya.
bukan berarti bebas tanpa batas,
dalam hal ini saya merasa akan jauh lebih baik jika kita bergerak atau melakukan suatu kebaikan tanpa melihat waktu, tempat serta sosok yang kita hadapi saat itu.
terdengar klise tapi itulah yang baru saya rasakan hari-hari ini.
terlambat?
barangkali iya.
tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
lagipula, perjalanan masih panjang kawan!
bukankah ini hanyalah satu dari sekian panjang episode yang akan kita jalani?
bukankah peran-peran kita hari ini seolah tidak ada artinya jika dibandingkan dengan peran-peran yang kita impikan di masa depan?
maka sungguh saya belajar betul jangan pernah menaruh harapan pada sesuatu, pada seseorang, pada sosok, pada hal-hal yang pasti dengan mudah mengecewakan.  mudah mengukurnya, potensi kecewa bisa lahir hampir dari seluruh yang kita punya.
maka sungguh mengolah rasa adalah satu bab yang barangkali akan terus menebal dan terasah seiring berjalannya waktu, sebab menata dan menjaga hanya dapat dilakukan oleh mereka yang telah berdamai dengan dirinya, telah selesai hatinya.
pilihan kita untuk diam, pilihan kita untuk bersuara,
pilihan kita untuk angkat tangan, pilihan kita untuk turun tangan,
atas tiap pilihan, semoga kita selalu dalam kebaikan dan keberkahan, selalu memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan.
sebab atas tiap pilihan akan selalu hadir konsekuensi yang kadang tidak pernah kita hitung sebelumnya,
sebab atas tiap pilihan yang kita ambil akan tampil sosok-situs-wahana, hal-hal baru yang semoga kita juga dianugerahi kemampuan untuk mengambil pelajaran didalamnya.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya saya tidak mungkin membuat semua orang bahagia.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya akan ada yang tidak suka, tidak peduli apa dan bagaimana kita telah berusaha, sebab mereka menilai dari sudut mereka berdiri, sebab mereka menilai hanya dari apa yang mereka ketahui.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya hidup ini bukan sekadar persoalan hubungan antar manusia, semua akan bermuara pada hubungan dengan Sang Pencipta.
jatuh bangunnya kita tidak akan sia-sia jika dalam tiap prosesnya Tuhan selalu kita libatkan.
pada akhirnya tujuan kita berjalan telah digariskan sejak awal kita diciptakan, kita diberikan kebebasan memilih seperti apa perjalanan yang akan membawa kita kesana.
 
img_1031
 
 

tabungan perasaan

kenangan-2
kenangan
berapa jumlah draft tulisan yang ada dalam media-arsip digital kalian?
hari-hari ini aku baru menyadari ada beberapa anomali yang ada dalam diriku, dari mulai kepekaan yang dibawah rata-rata, lebih senang menghadapi orang tua dibandingkan yang lebih muda, dan salah satunya adalah lebih gemar memendam meski pun banyak yang merasa aku lebih gemar bersuara.
belakangan aku menyadari ketika sedang mengalami masalah, atau menghadapi hal yang tidak biasa aku hadapi, aku lebih memilih mengambil jarak, lebih memilih berhenti daripada ketika berjalan lebih jauh ternyata menyakiti.
dalam diam inilah aku berpikir panjang, merenungi banyak hal, mencoba mengelola rasa sedemikian rupa.
sial, belakangan ketika aku sedang berhenti, justru beberapa masalah baru justru hadir dan menghampiri.
aku tersudut, aku kebingungan.
______
ada istilah menarik yang diperkenalkan Prof. Rhenald Kasali, non-infinito, kenyataan bahwa ternyata di dunia ini ada banyak hal yang tidak tertuntaskan, kadang ia harus dilanjutkan oleh para generasi setelahnya, atau sederhana, karya tersebut pada akhirnya tidak selesai.  berhenti dan dikenang dengan segala ketidaksempurnaannya.
mungkin dalam hubungan kita, antara kita dengan yang lain, antara kita dengan masalah-masalah kita. ada masa dimana kita pun harus menyadari bahwa kita tidak mungkin dapat menuntaskannya seratus persen.
bukan, bukan karena kita tidak berusaha, bukan pula karena kita belum melakukan yang terbaik yang kita bisa, rasanya lebih tepat jika langkah itu terhenti, atau tepatnya sengaja dihentikan semata karena merasa tidak selamanya segala sesuatu dapat berakhir dengan pelukan dan senyuman.
kita ini manusia, dengan segala keunikan didalamnya, kadang jadi menarik karena kita pun sering bertengkar bahkan sejak dalam alam pikiran kita.
harap dan cemas, berani sekaligus was-was, seringkali dalam hidup ini perasaan yang ada didalam diri kita tidak berdiri sendirian, dia selalu mengajak teman, membuat apa yang kita lakukan tidak mungkin berangkat dari tabula rasa namun seringnya berasal dari gejolak-gejolak tak kasat mata.
lambat tapi pasti, aku semakin memahami diriku.
mengapa pada akhirnya aku ternyata sering memendam, selain karena ternyata aku adalah introvert yang cukup akut, aku adalah orang yang masih memiliki trauma pada urusan perasaan yang terlalu.
aku takut menyakiti, aku takut disakiti.
sebuah kesimpulan yang akhirnya berhasil aku ambil, hasil ekstraksi yang melelahkan lagi menyita waktu cukup panjang.
sebuah kesimpulan yang rasanya semua orang pasti memiliki, pasti merasakan. tapi entahlah, aku pribadi baru berhasil mengenalinya sekarang.
_____
dan bahkan tulisan ini tadinya ingin dilanjutkan dengan beberapa tambahan bahasan, tapi lagi, rasa takutku masih mengalahkan.
maka kusudahi saja, sebelum keberanian ini tertutup lagi lalu terkubur kembali di lubang yang sama.
 
 
 
 
 

pilihan dan keberanian

img_6094
sepertinya masing-masing dari kita kelak akan segera bertemu dengan satu titik dimana kita harus memilih satu dan mengorbankan yang lain.
ini bukan soal pekerjaan dengan keluarga, bukan juga hal sebesar nasionalisme yang harus tergadai demi keselamatan jiwa.
sepertinya level kita belum sampai ke arah sana,
titik itu adalah titik dimana kita memilih dari beberapa pilihan, lalu kita mulai letih menjalani pilihan yang telah kita ambil.
titik itu mungkin lebih akrab disebut titik jenuh.
 ____
saya begitu menyukai kalimat,
“kita bebas memilih, tapi kita tidak pernah bebas atas konsekuensi atas pilihan yang telah kita ambil.”
sederhana, namun sungguh membuat saya seringkali berpikir berulang hanya untuk mengambil suatu tindakan tertentu,
mengangkat telepon, memulai percakapan dengan orang lain, menyusun suatu rencana, bergabung dan terlibat dengan satu agenda, atas tiap pilihan, akhirnya saya semakin menyadari bahwa memang mungkin kebebasan justru terasa indah dengan batasan-batasan.
dalam setiap pilihan yang kita ambil, biasanya akan selalu hadir semangat yang begitu meluap-luap, semacam daya dorong atas keinginan serta kesiapan yang bertemu dengan kesempatan. liar dan tidak terkendali kadang, bahkan diawal biasanya hal-hal kecil terasa begitu berarti lagi perlu untuk dikritisi.
lantas disana kita akan begitu berani loncat, lari, berjibaku disana-sini semata untuk memperjuangkan gagasan, ide, serta semangat untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik, menurut kita.
lalu selanjutnya, akan dimulai benturan-benturan mulai dari yang ringan hingga yang kita rasa diluar batasan.
terjadi perbedaan, terjadi gesekan, terjadi penolakan.
semuanya berlanjut sampai pada satu titik, kita merasa tidak ada lagi jalan, semua yang kita lakukan seolah mentah.
lalu kita mulai linglung, tidak seimbang, mulai membandingkan-bandingkan, mulai mencari pegangan, mulai mencari pelarian. mulai lupa atau tepatnya melupakan alasan pertama kita memilih pilihan tersebut.
setelah itu apa?
gugur.
ada saja yang tiba-tiba mundur teratur, hilang seolah lebur.
lucu.
seolah hidup adalah sekadar menjalani apa yang kita sukai, atau tinggalkan sama sekali.
lucu.
sebab justru disaat “kegelapan” itu hadir, ada yang memanfaatkannya untuk menghilang, seolah gelap bukan bagian dari perjalanan, seolah gelap selalu menyimpan keburukan.
____
img_6093
jangan takut akan gelap kawan, disana justru kita akhirnya bisa melihat apa-apa yang tidak terlihat saat terang, tatap langit diatas, saksikan sendiri bahwa bulan dan bintang justru lebih menawan saat dalam kegelapan,
semakin pekat malam, semakin dekat dengan fajar.
itu kredo alam yang jelas dan tegas.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk menegaskan siapa kamu sebenarnya.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk menyatakan dengan lugas dimana kamu berada.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk memberikan yang terbaik yang kita bisa.
kelak ketika fajar itu datang,
ketika siraman mentari telah seutuhnya menerpa wajah kita,
itulah saatnya kita nikmati bersama hangatnya dunia menyapa kerja-kerja kita.
sebab seperti yang sering saya katakan dalam berbagai kesempatan,
percaya,
tidak ada hasil yang mengkhianati usaha,
sebab cara terbaik mendapatkan kebaikan adalah dengan memberikan kebaikan.
 6490700e-f63b-495a-a55b-8ccdd13a6389

apa yang menjadikan mahasiswa berharga?

13920390_10154431695099490_6669349205752013377_o.jpg
apakah jumlah adik yang berhasil ia kader meneruskan tahta, sejumlah manusia yang akhirnya memiliki cara pandang, idealisme yang serupa?
apakah lengkapnya koleksi kartu, peliharaan dalam satu permainan, jejeran smartphone atau justru audio mobil modifikasi yang menghabiskan puluhan juta?
apakah angka yang tertera di rekening panitia yang berhasil didapatkan lewat jerih payah marketing call tak berkesudahan?
apakah teriakan hidup-hidup-hidup yang bersautan, tak berkesudahan seantero jalanan?
apakah gelora semangat yang menembus nyali-nyali ciut para orang tua, mereka yang sedang duduk berkuasa?
apakah analisa tajam nan tanpa beban atas berbagai kondisi terkini, persoalan negeri yang berhasil dikaji lewat serangkaian diskusi panjang siang dan malam?
lantas seandainya ada salah satu yang ternyata jadi jawaban,
apakah itu cukup untuk kita hingga pada akhirnya berani menyebutkan diri kita sebagai seorang mahasiswa?

1 Agustus 2016, sebuah momentum akbar pertama, gong besar pembukaan kegiatan mahasiswa baru Universitas Indonesia 2016 telah terlaksana.
7302. Jumlah mahasiswa baru Universitas Indonesia angkatan 2016.
mutiara Universitas Indonesia.
disanalah kemarin saya untuk pertama kalinya menyapa,
tentu tak banyak yang bisa disampaikan, keterbatasan waktu, agenda yang masih menunggu setelahnya, dan juga memang pada akhir disengaja.
tak banyak kata, cerita yang tersampaikan.
saya mengawali sapaan pagi itu dengan menjelaskan visi dari OKK UI 2016.

momentum perayaan insan akademis menuju kontribusi tanpa batas

penjelasan sederhana tentang makna kontribusi tanpa batas, bahwa ditempat inilah kalian bisa jadi apa saja, sepanjang itu baik dan membawa kebaikan, kejar dan perjuangkan.
sapaan berlanjut pada cerita dua sosok yang sengaja saya hadirkan sebagai contoh bagi laki-laki dan perempuan,
mereka adalah Sri Mulyani dan Eyang Habibie, dua sosok inspiratif yang sebetulnya telah coba diundang oleh kami namun memang karena tidak bertemunya kesempatan maka tidak bisa terjadi,
Sri Mulyani, bagaimana beliau kembali ke negeri ini, meninggalkan beragam keidealan IMF hanya demi sebuah jabatan yang tentunya akan lebih “panas” dan “bergejolak”,
Eyang Habibie, bagaimana beliau rela, tetap bertahan, dengan kewarganegaraan Indonesia, padahal negeri itu telah menawarkan tawaran gila yang luar biasa,
singkatnya, saya coba hadirkan sejenak sosok yang harusnya bisa membuka pandangan mereka, siapa sesungguhnya mereka yang layak disebut alumni dari kampus bernama Universitas Indonesia.
sapaan lantas saya tutup dengan penjelasan tentang makna mutiara.
mengapa mahasiswa baru Universitas Indonesia mendapatkan panggilan mutiara.
bagaimana mutiara tercipta merupakan awal dari penjelasan, bagaimana justru dengan makin dalamnya lautan akan menciptakan tekanan yang membuat bentuk mutiara semakin sempurna.
dan saya berani berkata pada momen itu bahwa sejatinya

“kalian semua adalah mutiara!
orang-orang terpilih dari segenap pelosok desa, penjuru kota,
orang-orang yang telah melewati serangkaian proses panjang yang luar biasa!
namun bukan sekadar itu yang kami harapkan ada pada kalian,
karena kalian mutiara maka keindahan bukan semata karena kalian ada,
tapi indahnya mutiara adalah karena kalian berhimpun, karena kalian bersama-sama.
maka jadikan rangkaian KAMABA UI kali ini, mulai dari paduan suara, PSAU, OKK UI, PSAF, sebagai sebuah rangkaian, momentum bagi kalian semua, turning point, titik dimana kalian menyadari bahwa menjadi mahasiswa adalah soal tentang karya nyata,
tahun ini OKK UI mengusung konsep mentoring dimana kalian akan langsung disatukan dengan kelompok yang begitu beragam,
manfaatkan betul kesempatan itu,
dan mutiara Universitas Indonesia menjadi berharga karena kalian bergerak bersama-sama,
maka sadari dan pahami mulai detik ini bahwa kalian semua adalah mutiara,
lihat kanan-kiri kalian,
rasakan semangat itu,
berkenalanlah dengan mutiara dari fakultas yang berbeda, dari rumpun yang berbeda,
berkenalanlah dengan mereka yang berbeda suku, berbeda agama,
rasakan bahwa perbedaan adalah kekuatan!

sapaan itu saya akhiri.
dilanjutkan oleh Andy, lalu ditutup oleh pekik Universitas Indonesia yang dipimpin oleh Shendy,
di momen ini jugalah pertama kalinya kami memperkenalkan cara baru menggemakan pekik Universitas Indonesia,
dengan mengawalinya dengan kutipan lagu hyme UI,

…dan mengabdi Tuhan…
…..dan mengabdi Bangsa…..
……..dan Negara Indonesia……
UI!
Kepal jari jadi tinju!
UI UI kampusku!
Bersatu almamaterku!
UI!

maka menjawab dua poin besar, apa yang menyebabkan mahasiswa begitu berharga, dan apa yang membuat itu cukup untuk dijadikan alasan bagi seseorang menyandang titel mahasiswa,
adalah karena mereka berbeda, istimewa, dan mereka bergerak bersama-sama.
buang jauh titel itu seandainya kelak ketika bertemu dengan perbedaan mereka justru yang berada paling depan meruncingkan keadaan,
buang jauh sebutan kehormatan itu jika kelak ditemui keadaan bahwa satu kelompok merasa lebih tinggi dibandingkan yang lainnya,
buang jauh mahasiswa bila nanti ditemui orang-orang hebat yang bergerak sendiri-sendiri, berjuang mati-matian sendirian bukanlah cara mahasiswa, bukan seorang mahasiswa,
kita berharga sebagai mahasiswa karena kita berbeda dan kita bergerak bersama-sama.
terus mencari dan mempertahankan kebenaran.
 
 

percikan perasaan

DSC06113.JPG
Aku hanya ingin mengatakan, bahwa berada di dekatmu membuatku merasa nyaman, dan aku sangat tidak suka akan hal itu. Bukan, bukan karena kamu, semua karena aku. Aku yang masih jauh dari standar, membuatku tak mungkin bisa menjadi tempat bersandar.
Aku memang tidak peka, tapi kepekaan yang kumiliki lebih dari cukup untuk sekadar mengetahui apa yang mestinya ada dalam diriku sebagai modal awal untuk menyatakan perasaanku kepadamu.
Jelas kamu bukan penuntut, dari semua tutur katamu, kamu salah satu dari sedikit sahabat perempuanku yang berhati lembut (walaupun sahabat perempuanku juga sedikit). Namun aku sadar memiliki bukan sekadar perkara hari ini, tapi hari nanti. Bukan sekadar kita berdua, ini tentang hal besar yang ada di masing-masing dari kita.
Dari berbagai hal yang kudapati entah dari bacaan atau nasihat yang kuolah dari perkataan, kita membeli seseorang karena potensi yang ada di dalam diri mereka. Jujur saja, aku belum mampu benar melihat secara jelas potensi yang ada di dalam dirimu, namun bahkan dengan titik itu saja, aku telah terbeli olehmu.
Semoga saja, semoga saja aku tidak terbeli oleh kecantikan, atau kecerdasanmu, atau tingkah lakumu kala berhadapan dengan orang yang lebih tua dari dirimu, atau pola asuhmu pada anak-anak kecil yang terpaut usia cukup jauh darimu, atau dari caramu berjalan, atau dari caramu mengkombinasikan warna pakaian, ya, apapun itu, semoga saja bukan karena apa-apa yang telah tampak dihadapanku, sebab aku yakin jika itu yang sesungguhnya terjadi, tentu sekarang aku berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, sebab ya, jika itu kenyataannya, maka sungguh aku hanyalah seorang yang telah tertipu oleh apa yang tampak semata.
Ada yang bilang bahwa laki-laki memang tidak akan pernah mampu mengolah perasaan mereka sepenuhnya menjadi kalimat sederhana, tanyakan saja apa alasan ayah kita mencintai ibu kita, jawabannya tentu tidak akan pernah kita duga, laki-laki kabarnya memang begitu, berusaha mengekspresikan perasaannya lewat tindakan, sebab baginya cinta dan setia adalah kata kerja, tenaga yang membuatnya sanggup menjalani pagi hari yang bising dan penuh sesak ditengah himpitan kota untuk sekadar mengais rezeki bagi orang-orang yang mereka cinta, pulang tengah-tengah malam dan mampu bernafas lega saat membuka pintu dan ditenggoknya anak serta istri menunggu dengan setia di dalam rumah mereka yang sederhana.
Aku ingin menjadi laki-laki yang sedikit berbeda sebetulnya, toh apa salahnya jika tiap pagi aku ucapkan cinta?  padamu, pada anak-anak kita?
apa sulitnya sembari mengantarkan tidur anak-anak kita aku hadir dan sekadar bertanya bagaimana hari ini mereka jalani?  membagi cerita tentang apa yang juga kuhadapi?  monster berbentuk asap polusi, godaan berupa tahu tempe goreng yang kurang sehat?  bos atau bawahan yang mungkin hari itu membuat dinamika di tempat kerja?
***
aku hanya ingin mengatakan, sekalipun hari ini kenyamanan yang berhasil ada diantara kita sulit kutemukan penggantinya, tapi ada baiknya bagi kita untuk tetap saling menjaga. menjaga apa yang memang pantas dijaga dari masing-masing kita, sebab bukan rahasia bahwa cinta memiliki formula yang tidak bisa diduga, hari ini dan esok pagi mungkin cinta bisa mendominasi, tapi siapa yang menjamin lusa malam, minggu depan, kita masih memiliki porsi cinta yang sama?  dan siapa juga yang berani dengan mudah menyimpulkan bahwa kenyamanan yang kita temukan hari ini adalah cinta?
maka biarlah kepekaan ini tetap berada pada posisi yang sama, sebab jauh lebih baik bagi kita untuk tidak banyak menduga-duga, porsi kita adalah berusaha dan percaya pada rahasia indahNya.
karena dari awal kita tidak pernah benar-benar saling mengenali, tak ada salahnya untuk terus menjalani apa yang menurut kita memang menjadi apa yang kita sukai, sepanjang itu kita anggap baik dan membawa kebaikan, apapun itu, kelak ketika kita bertemu, tentu kita akan dengan mudah saling memahami dan menerima.
sebab aku tidak akan mau terbeli hanya karena apa yang terlihat oleh mata, sebaiknya akupun juga harus kembali menata apa yang hanya bisa dirasakan oleh hati,
sebab aku tidak ingin menjadi laki-laki yang kesulitan mengekspresikan perasaannya, aku akan terus berusaha untuk setidaknya menuangkan apa yang terjadi lewat kata-kata, maka terakhir, doakan aku untuk tetap bisa setia menuliskan, apapun, sebab akupun ingin agar kelak ketika aku berada dalam satu titik yang tidak lagi pernah sama, aku tetap bisa melihat siapa dan apa yang dulu pernah aku rasa.
dan kuharap kamupun melakukan hal yang sama, cinta.
 

renungan bulan baru

278658.png

 
kita seringkali berharap akan menemukan percakapan yang bermutu, sapaan yang hangat, teguran yang ramah.
kita seringkali berharap akan mendapati sahabat yang pengertian, teman yang bijaksana, rekan yang sabar dan perhatian.
kita seringkali berharap ada dalam pusat kebaikan, titik tekan produktifitas, fokus pada kebermanfaatan.
ah,
kita terlalu sering berharap.
kita terlalu sering berharap sampai lupa atau setidaknya luput dari perhatian kita bahwa setiap harapan memiliki harga.
silahkan gantungkan harapan tinggi, setinggi bintang kata orang.
silahkan tambatkan harapan begitu dalam, sedalam lautan kata orang.
tapi ingat,
ingat bahwa setiap harapan memiliki harga yang pantas.
sebab kesempatan tak akan pernah berharga tanpa persiapan yang tuntas.
sudahkah engkau berusaha untuk selalu memilah-memilih isi percakapan?
sudahkan engkau berusaha untuk menyapa seseorang dengan penuh ketulusan?
sudahkah engkau berusaha untuk menegur seseorang dengan mengesampingkan apa yang kau rasakan?
sudahkah engkau berusaha untuk berada di posisi sahabatmu?
sudahkah engkau berusaha untuk dewasa saat mendengar cerita dari temanmu?
sudahkah engkau berusaha meredam amarah dan mencurahkan perhatian kepada rekanmu?
sudahkah engkau berusaha berbuat baik dimana saja?
sudahkah engkau mengerjakan segala amanah tanpa menunda-nunda?
sudahkah engkau tuntas akan ekspetasi serta apresiasi dan berfokus pada senyum tulus tiap manusia?
bulan masih cukup tinggi, cukup terang,
kawan, mari perbaharui janji, malam masih panjang.

Menenggok masa lalu : post pertama di tumblr saya

“aku ingin memulai hidup baru, sebagai bukti bahwa aku tidak pernah sedikitpun berhenti berlari, meskipun aku pernah terjatuh berkali-kali.” -Ihkam Aufar Z

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kawan,
dalam hidup ini entah ada berapa banyak ragam jenis makhluk hidup tak hidup yang sengaja dikirimkan Yang Maha Kuasa untuk menutupi langit cerah kita.
tiba-tiba tanpa permisi menguasai sebagian besar tingkah-laku, mengatur dan mendominasi tanpa malu-malu.
barangkali, tiap dari kita menyambutnya dengan wujud yang berbeda-beda, ada yang menjelma jadi sistem rumit dan menyebalkan, ada yang hidup dan tumbuh besar sebagai senior di satu jurusan, ada pula yang mungkin pada awal kehadiran sebetulnya begitu kita syukuri, banyak memberikan ruang dan pertolongan yang menyenangkan hati, namun belakangan justru berusaha kita hindari setengah mati.
kawan,
dalam hidup ini entah ada berapa banyak ragam jenis bentuk rupa karakter hidup tak hidup yang tanpa izin bermunculan di sekeliling kita,
menjadi awan kelabu yang menutupi langit biru,
menguji keluasan hati dan kedewasaan saat memberikan reaksi.
kawan,
hidup adalah tentang keberanian menghadapi tanda tanya,
hidup adalah tentang kesempatan dan tanggung jawab atas tiap pilihan,
maka saat beberapa awan kelabu datang menghampiri, saat ombak besar tiba-tiba hadir tanpa permisi,
itulah saat paling tepat bagi kita untuk mengambil nafas panjang, menjernihkan pikiran sebelum pada akhirnya melangkah, mengambil keputusan.
silahkan menepi, sejenak berdiam, menenangkan diri, mencoba melihat apa yang terjadi tanpa banyak campur tangan emosi.
kawan,
ini bukanlah akhir dari perjalanan,
bahkan barangkali dibandingkan para pendahulu, apa yang kita hadapi dan lakukan masih jauh dari kata perjuangan.
maka sadari dan pahami dengan penuh pemaknaan, bahkan hidup selamanya adalah kombinasi sabar dan syukur yang tidak mengenal pemberhentian.
 
 

P.s : post pertama saya adalah quotes diatas, foto dan pemaknaan mengiringi belakangan  :))