negeri 1001 dongeng

tersebutlah sebuah negeri yang begitu indah,
kekayaan alam yang melimpah, manusia-manusia yang kuat serta ramah,
seluruh negeri kagum sekaligus menyimpan rasa iri yang berlipat pada negeri ini.
Tuhan Maha Adil,
negeri itu perlahan tapi pasti sedang menghadapi masalah yang sungguh tidak mudah.
negeri itu mulai disusupi pengkhianat.
lahir dari dalam, tumbuh dan dibesarkan oleh kebaikan negeri yang begitu hangat,
sayangnya para pengkhianat bahkan lupa masa-masa indah mereka,
yang mereka ingat hanya satu, jadilah penguasa apapun cara dan berapapun harganya.
menjadi penguasa adalah harga mati bagi mereka.
mengapa begitu?
para pengkhianat memiliki kesamaan,
mereka lupa tujuan utama mereka tercipta di dunia.
____
mengapa mereka disebut pengkhianat?
sebab mereka mulai menginjak orang lain untuk membuat posisi mereka lebih tinggi,
sebab mereka mulai merusak nilai-nilai bahkan kepercayaan berbagai pihak untuk membuat posisi mereka lebih nyaman,
sebab mereka mulai berani mengorbankan sesuatu yang membuat mereka tidak lagi menjadi manusia, yakni akal sehat serta hati yang hidup.
mereka kemudian semakin membesar, seolah semua noda yang mereka buat justru masuk dan menyerap kedalam diri mereka,
mereka menjadi buntalan noda, buntalan yang begitu besar hingga benar-benar membuat mereka semakin berbeda dengan manusia biasa.
mereka mulai mendapatkan sekaligus kehilangan semuanya,
mereka mulai mendapatkan tumpukan hormat sekaligus kehilangan rasa malu,
mereka mulai mendapatkan pangkat sekaligus kehilangan akal sehat,
mereka mulai mendapatkan gunungan harta,
gunungan yang luar biasa namun tetap membuat mereka merasa tidak cukup,
sebab nyata, hati mereka tidak lagi hidup.
benar-salah bisa dibeli,
baik-buruk tak penting lagi.
____
buntalan yang begitu besar, mengalahkan besarnya monster yang selama ini hanya ada dalam kartun anak-anak.
para buntalan ini lalu mulai membagi kekuasaan, besar badan mereka mulai membuat mereka risih jika berdekatan.
sesama buntalan namun sungguh mulai saling merasa tidak aman,
mereka saling membesar dengan cara yang sama, namun saling merasa dan menuduh soal siapa yang paling suci dan penuh noda.
ya,
para buntalan  lalu bersepakat untuk berdamai dengan cara membagi kuasa,
buntalan satu jadi jagoan pada urusan keamananan,
buntalan dua jadi raja pada urusan dagang serta hutang-piutang,
buntalan tiga jadi tokoh utama pada urusan birokrasi,
buntalan empat jadi pemain handal pada urusan politik dan lobby-lobby.
sial,
ada lebih dari seratus buntalan di negeri ini.
____
para buntalan tetaplah setumpuk noda yang mulai hilang keseimbangan,
besar badan pada akhirnya membuat mereka tetap saling bersenggolan.
beberapa buntalan mulai bertengkar,
ciptakan kegaduhan, ciptakan badai-badai besar diberbagai tempat.
buntalan tak pernah peduli soal manusia-manusia kecil yang terpaksa hidup dibawah kaki mereka,
semua masih sama, hanya tentang diri mereka.
negeri yang indah perlahan mulai kehilangan cahayanya,
redup sinar serta pudar warna-warninya.
negeri itu sekarang tidak lagi indah.
lebih parah,
pertengkaran para buntalan mulai memakan korban,
sialnya bukan buntalan yang berjatuhan,
manusia-manusia kecil mulai terinjak bahkan mati dibawah kaki serta tangan kotor mereka,
manusia yang tidak tahu banyak hal,
manusia yang masih percaya akan janji masa depan yang lebih baik.
manusia yang akhirnya terpaksa harus mati dengan ikut terkena noda yang berasal dari para buntalan.
____
manusia-manusia kecil yang sungguh menyedihkan,
bersyukur aku sejak lama telah pergi dari negeri itu,
ah,
tak penting kemana aku pergi,
ternyata semua negeri telah dimiliki oleh para buntalan,
dimanapun akan tetap sama,
hanya soal menunggu serta mengisi kematian saja.

catatan harian 3 : kita semua punya cerita yang berbeda

ada jeda cukup lama antara tulisan hari ini dengan tulisan terakhir,
sejujurnya sempat ada perasaan, “tuhkan gak konsisten, ngapain sih lagian kurang kerjaan amat”
tapi ketika coba dipikirkan lebih lama dan jernih, “apa salahnya?”
maka sebagai pengantar saya akan coba mengatakan secara terbuka bahwa saya sedang dalam proses perbaikan diri di banyak sisi, contoh sederhananya ya konsistensi dalam tulisan ini, gapapa ya.. hehe..
okay.
jadi kemarin itu, 11 April 2017, saya gak masuk kuliah, alasan terbesarnya adalah ngerasa gak punya motivasi apapun untuk masuk kelas dan alasan lainnya adalah karena telinga juga masih kurang enak (kemarinnya baru dari RSIP Bintaro),
seharian dirumah ternyata bosen juga ya, dan ada semacam renungan sederhana bahwa,
barangkali keluarga ideal juga bukan sebuah keluarga dimana seluruh anggotanya bisa terus-terusan hadir di rumah, bisa berkumpul makan siang, bisa ngobrol panjang-lebar sambil minum teh sore hari, tapi ya pada akhirnya kita harus paham bahwa justru dengan berbagai kesibukan masing-masing, ketika ada momen berkumpul itulah yang harus dirayakan seutuhnya. lagipula, apasih yang ideal di dunia ini? ahaha..
kayak kemarin itu seharian di rumah pun, Abi berangkat kantor dari pagi, Ocid terus pergi sekolah dan terakhir Ummi juga ngaji seharian, Ocid baru pulang (dan bawa temennya) sekitar jam setengah tiga, praktis rumah memang sepi ya hampir seharian, dan itu baru saya rasakan banget kemarin.
sorenya secara random saya menyapa Zha, anak saya di kastrat BEM UI 2015 dulu, katanya dia emang lagi kerja di daerah BSD dan secara jarak dari rumah artinya cuman ditempuh sekitar 15 menit aja (all hail tol BSD yang super mahal).
lebih random karena ngecek film di CGV Blitz dan ada satu judul yang bikin penasaran, Labuan Hati judulnya.
coba buka trailernya, fix pengen!

bayangin aja, Labuan Bajo, Pulau Komodo, dengan secara keindahan sunset, lautan, bukit, dan kapal-kapal kayunya benar-benar secara apik ditampilkan, belum dengan beberapa kalimat “setiap dari mereka punya kisah”, wahaha, sebagai seorang yang sangat terbeli dengan kalimat-kalimat semacam ini, saya pun akhirnya mengajak Zha untuk nonton film, dan dia ternyata lagi bisa.
saya pun coba merapihkan sedikit rencana dengan coba berangkat lebih dulu dan sekalian berencana untuk nge gym di teraskota, sudah lama penasaran sama celfit yang ada disini tapi selalu gak diniatin secara baik dan cuman berakhir dengan rasa penasaran.
jam lima lebih sedikit saya sampai, menaruh tas di loker terus jalan dulu ke bioskop untuk beli tiket, mengingat saya bukan pemilih bangku yang baik, saya selalu takut kalo beliin kursi bioskop karena emang sering fail, ahaha..
semua berjalan sampai dititik akhirnya ketemu sama Zha.
dan disanalah berbagai percakapan bermula,
mulai dari fakta bahwa dia sekarang jadi semacam asisten GM langsung, sibuk kesana-kemari dengan mobil VW nya, waah, baru bertemu setelah sekian lama itu ternyata benar-benar jadi semacam cara yang baik juga untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
yaampun anak ayah udah besar-besar ya sekarang.
dari sekian panjang yang kita habiskan sesorean sampai ditutup dengan makan di pasmod BSD itu, saya mendapatkan banyak banget insight yang menarik.

  1. bahwa saya sudah tidak layak lagi memanggil mereka anak-anakkuh, dan mereka rasanya juga gak pas lagi buat manggil saya ayah, ahaha..
  2. dari film, saya belajar betul bagaimana ada sosok-sosok yang belum berdamai dengan dirinya sendiri, sehingga selalu melihat keluar dan menyalahkan semua yang ada diluarnya, ada quotes keren dari suami Bia, kurang lebih, “ayo pulang.. masalah kamu itu aku, bukan disana.. pulang ya, aku tunggu kamu..”, dititik itu saya ngerasa tersentil.. saya secara sadar ataupun gak sadar dalam beberapa kejadian menghindari, bukan menghadapi, memilih lari dan pergi, memilih menyimpan kecewa dan kesedihan seorang diri dan tidak mau berbagi dengan siapapun, berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, bahkan untuk sekadar bercerita dalam doa kepada Tuhan pun kadang saya enggan.
  3. dari film, saya juga akhirnya terpicu kembali untuk mencintai Indonesia dengan lebih dalam, rasanya dulu pernah ada di titik yang ingin keliling Indonesia, menyelam diberbagai spot-spot keren yang mendunia, mendaki puncak-puncak tertinggi, aih, kemana semua itu?  ayolah, mumpung masih muda, mumpung belum ada yang bertanya, “kapan pulang sayang, aku kangen”, heuheu..
  4. dari film, saya sebetulnya sebel adegan-adegan tidak penting baju bikini, ciuman dan lainnya, cuman darisana juga saya dapat sisi lain bahwa ada banyak banget orang yang mungkin memang pada akhirnya hanya mengetahui bahwa itulah satu-satunya jalan yang bisa mereka tempuh kalau mereka berlibur, atau simpelnya untuk mengekspresikan dan mendapatkan bahagia versi mereka, ya mirip sama kalo dulu di waterpark, anak-anak kecil udah dikasih baju bikini sama orangtuanya kan?  akhirnya standar yang mereka pakai dan enjoy ya itu, dan gak ada seorang pun yang berani menegur atau setidaknya bilang, bahwa ada alternatif lain loh yang lebih sopan, pun dengan ekspresi cinta atau kebutuhan akan kasih sayang dari orang lain, karena terbiasa untuk selalu bersentuhan, hal-hal seperti ciuman, meski dengan orang yang baru dikenal, bisa saja jadi sesuatu yang memiliki alasan, sesimpel alasan “terbawa suasana”.
  5. dari Zha, saya dapetin suntikan luar biasa soal bagaimana kekayaan akan jadi suatu hal yang punya dampak nyata, kebaikan berlipat, ketika berada ditangan yang tepat.
  6. dari Zha juga saya belajar bahwa perencanaan dan fokus benar-benar jadi suatu daya tawar yang nyata bagi hubungan yang serius, dan saya rasa adalah konyol kalau saya justru yang awalnya sudah memiliki sekian panjang impian, perencanaan lantas jadi berantakan hanya gara-gara ada unsur perasaan yang sempat lewat disana.
  7. sebenarnya ada banyak, cuman ya segitu dulu ya, semoga saya bisa lebih cepat menulis dan mempublikasikannya, ini juga jadi pelajaran, jeda terlalu lama yang saya buat dari sejak tulisan ini ada di draft sampai keluar itu semata karena saya masih berpikir untuk coba menjadi sempurna, padahal daripada berfokus pada hasil, ada baiknya saya lebih coba membangun proses-proses yang terukur dan berkesinambungan.

catatan harian 2 : pertemuan sederhana

halo semua!
selamat siang,
hari ini tanggal 31 Maret 2017, akhir dari sebuah bulan yang seharusnya jadi waktu-waktu dimana saya bisa sejenak berkenalan kembali dengan diri saya, dan orang-orang disekitar saya.
gimana caranya?
well, saya kan ulang tahun tanggal 24, dan entah kenapa setiap menjelang atau sesudah waktu tersebut selalu saja ada  hal-hal yang ngebuat saya bisa sejenak berhenti dan berpikir ulang, contohnya salah satu yang saya sadari betul belakangan, saya segitu jarangnya mengucapkan selamat ulang tahun ke orang lain, padahal ada banyak banget orang yang masih peduli dengan ulang tahun saya.  huhu sedih..
hal-hal macem gitu yang terus membuat saya kembali coba perlahan ngebuat semacam komitmen alay,
ah pokoknya saya sekarang sebisa mungkin ngucapin deh, sebisa mungkin ngelakuin sesuatu yang sekalipun dimata saya sangat sederhana (iya suer bagi saya mah ngucapin gituan gak banget sebenernya), tapi pasti dimata orang yang bersangkutan hal itu jadi terasa istimewa.
saya juga jadi inget dulu banget pernah sok sok komitmen mau ngasih hadiah buku ke semua temen yang ulang tahun, tapi wacana, haha..
okelah ya.
jadi jeda antara tanggal 28 sampai hari ini saya isi dengan beberapa hal,
selain tidur,
saya di hari Rabu yang lalu sempat ke Depok buat ambil soal ujian MKK, berangkat gak pake mandi karena udah mandi jam enamnya (tapi tidur lagi, jadi tetep beler, ahaha), terus dimejanya ada Fathim yang galak tapi baik ngejagain buat tanda tangan, selesai ambil soal saya dengan gaul nge-gym (iya kamu tidak salah baca kok), sempet juga ngurus tagihan halokick saya yang gatau kenapa kok jebol bulan kemarin, nah yang menarik, saat di grapari ini ketemu sama Ma’ruf,
singkat cerita pertemuan sama Ma’ruf ngebuat saya ngedapetin insight soal dunia pasca kampus,
doi udah keterima di Telkom (gils cuy baru lulus kemaren padahal),
masuk jalur yang semacam MT, tapi yang jadi insight bagi gue sendiri adalah fakta bahwa persaingan yang cukup ketat itu ternyata bisa dijabarkan kurang lebih kedalam beberapa hal fundamental,
akademis, IPK mau gak mau diatas 3 itu udah semacam keharusan, mendingan lulus lama, poles dikit IPK, itusih yang saya dapatkan juga, karena kamu lulus berapa tahun itu jadi gak terlalu penting dimata perusahaan,
organisasi atau prestasi, Ma’ruf yang bilang sendiri bahwa dua hal ini bisa jadi saling melengkapi, artinya kalo emang kamu bukan orang yang suka sama dunia organisasi selama di kampus, ya punya prestasi itu udah semacam keharusan, dan lagi yang menarik juga, organisasi gak selamanya dipandang sebagai sebuah pencapaian yang tinggi (artinya sekadar jadi staf pun oke), tapi lebih kearah pandangan orang yang ikut organisasi itu ya seenggaknya udah biasa untuk ngerasain dinamika atas berbagai perbedaan dan hal-hal berbau softskill lainnya,
terus habis grapari dan gym, saya ketemu Nuzul~
Nuzul si anak jiwa volunteer yang sedikit overdosis sisi sosialnya,
jadi Nuzul ini sakit tipes, tapi karena emang kerjaannya ngebuat dia harus balik ke Bandung, akhirnya ya dia balik deh dari Depok, cuman sekitar 15-20 menit pertemuan sambil nemenin dia nungguin travel, dialog sederhana tapi ada satu yang keinget banget,
“eh gue mau keliling jawa nih..”
“yah gue udah pernah..”
“hah serius? naik mobil loh ini..”
“iya gue udah pernah, sampe NTB malah..”
“gils gaul banget lo ternyata..”
disana saya ngerasa saya ternyata sudah tertinggal cukup jauh dari sosok Nuzul ini.
Nuzul nih ya, benar-benar sosok yang kenal banget sama diri dia.
sedari awal terus di dunia sosial, skripsinya dia penelitian langsung ke suku Baduy di Banten sana, rela lulus telat demi skripsi yang cihuy,
dan sekarang lagi ngurus proyek sosial yang fokus sama anak-anak di Bandung.
dan dia ternyata udah jalan-jalan keliling jawa naik mobil.
saya ngerasa banget Nuzul ini sosok yang bisa secara tepat menikmati hidupnya.
ish gila ya kemana aja saya selama ini, haha..
dah selesai deh, travel Nuzul dateng, kita cipika-cipiki (boong deng, Nuzul gak romantis, ahaha)
habis itu saya jalan balik ke kontrakan, niatan awal emang mau beres-beres sekalian menghabiskan sedikit waktu,
singkat cerita di kontrakan mati lampu, dah deh jalan balik ke rumah aja.
saat jalan balik ini dapet momen menarik juga,
jadi karena gatau kenapa arah jalan tol itu macet, saya sok-sok inisiatif mau lewat Jatipadang, adzan magrib, ah coba sholat di Masjid samping jalan ah, dan ternyata Masjid ini cukup ramai!
kagum sama sisi religius masyarakat hari ini yang saya pribadi rasa sih semakin meningkat, mas-mas depan saya itu rambutnya gondrong abis, topinya dipake arah kebelakang gantiin peci kali ya, ada lagi macem bule gitu juga ikut sholat, sales-sales (yang ketauan dari baju yang dipakai), abang gojek-grab-uber, ish seneng..
selesai sholat, saya tiba-tiba kepikiran nonton, males gitu masih sore udah pulang ye kan (baca : pengen terlihat gaul. red), coba ngontak beberapa orang, akhirnya dapet 2 orang, Tari sama Azzam, yowes singkat cerita ketemu, makan blenger yang guede banget itu dan gak habis, terus ngobrol soal quarter life crisis, terus mau ke taman kota tapi ternyata kalo malem gak buka (perasaan dulu nyala-nyala), terus anter pulang deh ke Batan,
habis itu maleman jam sepuluh baru ketemu Azzam.
dan disinilah deep conversation terjadi (ceilah gaya beut pak)
kami berdua ngobrol kemana-mana,
mulai dari soal senior yang kerja di daerah tapi gaji dua digit tapi hidupnya kesita 120% kekerjaannya,
soal kawan-kawan lama dengan segala update kabar yang kita berdua terakhir tau,
soal bisnis, peluang, sampai urusan lain semisal percintaan yang alay dan sebagainya.
wah, seneng deh!
 
jam nunjukkin pukul 12.20 waktu akhirnya pulang karena paginya harus nganter ummi ke Bandara.
bersambung..
 

catatan harian 1 : mulai

saya seenggaknya punya 3 wadah menulis,
tumblr, wordpress dan website pribadi (promosi heuheu)
berpikir sejak lama tapi baru melangkahnya malam ini, saya akan coba lebih merapihkan dan mengfungsikan ketiganya dengan lebih baik,
tumblr untuk yang gado-gado (campur-aduk), wordpress untuk tulisan ringan pribadi, dan website itu akan coba diisi dengan tulisan saya yang menurut saya cukup ada isinya. hehe..
bismillah ya.
secara impulsif coba memulai untuk membuat semacam diari sederhana (lagi),
rasanya terakhir menulis-nulis alay seperti ini ya saat SMA dulu, sempat punya beberapa buku yang isinya warna-warni, penuh ucapan, renungan, curhatan yang hanya tertahan dan tersimpan dengan rapih disana. (semoga masih ada ya buku itu).
hari ini tanggal 28 Maret, selamat hari nyepi buat yang merayakan,
kayaknya saya belakangan juga sering nyepi ya, suka merenung, suka ngablu, suka mempertanyakan kembali berbagai hal dalam hidup.
hari ini alhamdulillah diawali dengan olahraga bareng di bintaro exchange, bareng abi dan ocid, karena ummi udah berangkat duluan.
ketemuan disana sama ummi, maen badminton, wah ternyata ocid sama ummi udah naik level ya, atau saya aja yang makin cupu ya, ahahaha..
yang menarik dipagi itu adalah kenyataan bahwa ada banyak pasangan muda yang membawa anak kecil, bayi, balita mereka untuk turut olahraga atau mungkin tepatnya jalan pagi.
seru aja ngeliat aktivitas rombongan kecil yang cukup banyak jumlahnya itu, khas banget gak sih kalo ngeliat pasangan muda tuh, kayak dunia berasa cuman milik mereka gitu..
terus jadi kembali kepikiran soal percakapan singkat banget sama abi beberapa waktu yang lalu,
“cari jodoh itu jangan yang seangkatan, kalo bisa yang lebih muda 2 tahun lah minimal”
jreng jreng jreng
“terus kalo sama yang lebih tua?”
“wah kalo gak terpaksa banget mendingan jangan”
jreng jreng jreng jreng
gatau ya,
sepagi itu secara sialan udah diajak baper lagi cuman gara-gara ngeliat pasangan muda olahraga pagi, astaga.
tapi emang sejujurnya belakangan juga mulai berpikir ulang dan sampai pada titik ngerasa, ada benarnya juga apa yang disampaikan abi.
gatau deh yah, kita biarkan baper ini terus tumbuh dulu.
hari ini sebetulnya masih edisi sakit, kemaren dari RSI Bintaro dan emang diminta istirahat aja lah santai dan saya tentunya merasa bahagia atas permintaan itu, gak diminta aja udah santai, ahaha..
sisa hari tadi dihabiskan dirumah aja. nonton ulang debat anies-ahok (terima kasih indiehome atas fitur playbacknya), baca buku bentar, tidur siang (yihaa), sama ngerjain tugas dan buka-buka aplikasi ecommerce cuman iseng.
sejujurnya lagi dalam kondisi tidak baik-baik saja, lebih ke pikiran daripada fisik, cuman ya siapa juga yang peduli ye kan, dan lagi belum dapet temen cerita yang pas juga, jadi yasudahlah ya.
sekian, semoga hari esok bisa lebih baik lagi!
 
 

kita dan hati yang (tak) pernah selesai.

IMG_1132.JPG
ada satu adagium atau bahkan kredo yang belakangan begitu menarik saya, dan secara tidak sengaja beberapa kali bermunculan dengan cara yang berbeda.
jangan pernah mengukur sepatu mereka dengan sepatumu, itu berbeda.
jangan membenci seseorang hanya karena dia melakukan dosa yang tidak kita lakukan.
hey, kalimat ini bertenaga betul.
seringkali saya menilai seseorang atas apa yang pernah dia lakukan dalam hidupnya, atau kalau memang dia adalah seorang yang pernah berinteraksi dengan saya, entah dalam jangka pendek ataupun lebih lama, saya juga akan berusaha membangkitkan betul kenangan-kenangan yang ada didalamnya, baik-buruk, pahit-manis, menjadikan itu sebagai sebuah landasan atas sikap dan reaksi yang akan saya berikan saat berhadapan.
apakah itu cara yang benar dalam bersikap?
pipi saya seolah “ditepuk” berulang kali minggu-minggu ini,
“sentuhan” yang lambat-laun sampai pada hati, menyita pikiran lalu berubah jadi tenaga untuk berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan.
saya kemudian merasakan bahwa akan jauh lebih indah jika kita melakukan sesuatu karena memang kita ingin melakukan hal itu, terlepas dari kapan, dimana, siapa, dan sebagainya.
bukan berarti bebas tanpa batas,
dalam hal ini saya merasa akan jauh lebih baik jika kita bergerak atau melakukan suatu kebaikan tanpa melihat waktu, tempat serta sosok yang kita hadapi saat itu.
terdengar klise tapi itulah yang baru saya rasakan hari-hari ini.
terlambat?
barangkali iya.
tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
lagipula, perjalanan masih panjang kawan!
bukankah ini hanyalah satu dari sekian panjang episode yang akan kita jalani?
bukankah peran-peran kita hari ini seolah tidak ada artinya jika dibandingkan dengan peran-peran yang kita impikan di masa depan?
maka sungguh saya belajar betul jangan pernah menaruh harapan pada sesuatu, pada seseorang, pada sosok, pada hal-hal yang pasti dengan mudah mengecewakan.  mudah mengukurnya, potensi kecewa bisa lahir hampir dari seluruh yang kita punya.
maka sungguh mengolah rasa adalah satu bab yang barangkali akan terus menebal dan terasah seiring berjalannya waktu, sebab menata dan menjaga hanya dapat dilakukan oleh mereka yang telah berdamai dengan dirinya, telah selesai hatinya.
pilihan kita untuk diam, pilihan kita untuk bersuara,
pilihan kita untuk angkat tangan, pilihan kita untuk turun tangan,
atas tiap pilihan, semoga kita selalu dalam kebaikan dan keberkahan, selalu memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan.
sebab atas tiap pilihan akan selalu hadir konsekuensi yang kadang tidak pernah kita hitung sebelumnya,
sebab atas tiap pilihan yang kita ambil akan tampil sosok-situs-wahana, hal-hal baru yang semoga kita juga dianugerahi kemampuan untuk mengambil pelajaran didalamnya.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya saya tidak mungkin membuat semua orang bahagia.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya akan ada yang tidak suka, tidak peduli apa dan bagaimana kita telah berusaha, sebab mereka menilai dari sudut mereka berdiri, sebab mereka menilai hanya dari apa yang mereka ketahui.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya hidup ini bukan sekadar persoalan hubungan antar manusia, semua akan bermuara pada hubungan dengan Sang Pencipta.
jatuh bangunnya kita tidak akan sia-sia jika dalam tiap prosesnya Tuhan selalu kita libatkan.
pada akhirnya tujuan kita berjalan telah digariskan sejak awal kita diciptakan, kita diberikan kebebasan memilih seperti apa perjalanan yang akan membawa kita kesana.
 
img_1031
 
 

kaptenmu

kita telah merapat di dermaga,
meski belum sempurna, tidak ada larangan untuk sekadar pergi berjalan menyusuri pantai.
sendiri atau berdua, dengan pasangan atau jadi orang ketiga.
nikmatilah pasir-pasir putih yang begitu lembut di telapak,
berjalan santai ditemani deburan ombak.
kaptenmu ini juga awalnya ingin menemani,
perjalanan kita kemarin belum mampu memperlihatkan seutuhnya kapten itu seperti apa.
maafkan,
kaptenmu ternyata memiliki badai dalam dirinya.
alih-alih menemani, aku lantas kunci satu ruangan kecil dalam bahtera kita.
alih-alih bersama bernyanyi ruang sendiri, aku justru benar-benar ciptakan jarak yang tidak biasa.
hari ini aku keluar dari ruangan itu,
telah kutanggalkan baju kebesaran serta jabatan,
aku hanya ingin kembali, telah kukendalikan badai-badai ini.
aku belajar, badai hanya bisa dikendalikan oleh mereka yang telah mengendalikan dirinya,
badai tidak bisa diusir, sebab ia bagian dari apa yang kita cinta,
badai tidak mengecil karena usaha kita, badai mengecil karena Tuhan melihat kita telah berusaha.
selamat pagi semuanya.
selamat mengendalikan badai-badai dalam hidup kita.

jarak bagi rasa

rindu barangkali adalah bentuk lain pelukan, ia juga menghangatkan.
jarak diciptakan bukan untuk air mata, lebih indah jika kita sama-sama berpikir bahwa jarak ada untuk memberikan ruang bagi masing-masing jiwa untuk merayakan serta merasakan cinta.
cinta macam apa yang tumbuh hanya dari pertemuan tanpa perpisahan?
biarlah hari-hari ini kita hidup dengan menabung perasaan,
menyimpan segudang tanya yang tak pernah mengudara, memendam gejolak rasa dengan cara-cara lucu lagi istimewa.
jarak itu biarlah terus tumbuh, biarkan ia besar lalu mengenal dengan baik siapa tuannya.
biarkan jarak terus melebar dan ciptakan ruang-ruang baru diantara kita.
kelak ketika jarak telah dewasa, biarkan ia sendiri yang bergerak dan menggerakkan jiwa-jiwa,
biarkan jarak mengerti bahwa hadirnya di dunia memiliki tujuan yang tidak sederhana,
jarak dilahirkan bukan untuk memisahkan,
ia ada untuk membuat tiap jiwa bersyukur dan bersabar tentang pertemuan dan perpisahan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
jemari kita bertemu karena memiliki ruang, bergenggaman menuju bintang.

tabungan perasaan

kenangan-2
kenangan
berapa jumlah draft tulisan yang ada dalam media-arsip digital kalian?
hari-hari ini aku baru menyadari ada beberapa anomali yang ada dalam diriku, dari mulai kepekaan yang dibawah rata-rata, lebih senang menghadapi orang tua dibandingkan yang lebih muda, dan salah satunya adalah lebih gemar memendam meski pun banyak yang merasa aku lebih gemar bersuara.
belakangan aku menyadari ketika sedang mengalami masalah, atau menghadapi hal yang tidak biasa aku hadapi, aku lebih memilih mengambil jarak, lebih memilih berhenti daripada ketika berjalan lebih jauh ternyata menyakiti.
dalam diam inilah aku berpikir panjang, merenungi banyak hal, mencoba mengelola rasa sedemikian rupa.
sial, belakangan ketika aku sedang berhenti, justru beberapa masalah baru justru hadir dan menghampiri.
aku tersudut, aku kebingungan.
______
ada istilah menarik yang diperkenalkan Prof. Rhenald Kasali, non-infinito, kenyataan bahwa ternyata di dunia ini ada banyak hal yang tidak tertuntaskan, kadang ia harus dilanjutkan oleh para generasi setelahnya, atau sederhana, karya tersebut pada akhirnya tidak selesai.  berhenti dan dikenang dengan segala ketidaksempurnaannya.
mungkin dalam hubungan kita, antara kita dengan yang lain, antara kita dengan masalah-masalah kita. ada masa dimana kita pun harus menyadari bahwa kita tidak mungkin dapat menuntaskannya seratus persen.
bukan, bukan karena kita tidak berusaha, bukan pula karena kita belum melakukan yang terbaik yang kita bisa, rasanya lebih tepat jika langkah itu terhenti, atau tepatnya sengaja dihentikan semata karena merasa tidak selamanya segala sesuatu dapat berakhir dengan pelukan dan senyuman.
kita ini manusia, dengan segala keunikan didalamnya, kadang jadi menarik karena kita pun sering bertengkar bahkan sejak dalam alam pikiran kita.
harap dan cemas, berani sekaligus was-was, seringkali dalam hidup ini perasaan yang ada didalam diri kita tidak berdiri sendirian, dia selalu mengajak teman, membuat apa yang kita lakukan tidak mungkin berangkat dari tabula rasa namun seringnya berasal dari gejolak-gejolak tak kasat mata.
lambat tapi pasti, aku semakin memahami diriku.
mengapa pada akhirnya aku ternyata sering memendam, selain karena ternyata aku adalah introvert yang cukup akut, aku adalah orang yang masih memiliki trauma pada urusan perasaan yang terlalu.
aku takut menyakiti, aku takut disakiti.
sebuah kesimpulan yang akhirnya berhasil aku ambil, hasil ekstraksi yang melelahkan lagi menyita waktu cukup panjang.
sebuah kesimpulan yang rasanya semua orang pasti memiliki, pasti merasakan. tapi entahlah, aku pribadi baru berhasil mengenalinya sekarang.
_____
dan bahkan tulisan ini tadinya ingin dilanjutkan dengan beberapa tambahan bahasan, tapi lagi, rasa takutku masih mengalahkan.
maka kusudahi saja, sebelum keberanian ini tertutup lagi lalu terkubur kembali di lubang yang sama.
 
 
 
 
 

hari-hari ini dan kehangatan kita yang lalu

hari-hari ini Tuhan barangkali sedang meminjam kehangatan diantara kita,
sengaja Ia genggam sebab Ia rasa kita tak sedang membutuhkannya,
Tuhan tak mungkin salah, apa yang Ia berikan pastilah sebuah anugerah.
 

SONY DSC
SONY DSC

barangkali hari-hari ini kita kembali beku,
menjadi orang-orang asing yang memiliki kesamaan masa lalu,
aku tak bisa melawan, tak juga sanggup berangkulan.
kali ini aku tak mampu berjalan di depan,
kita semua memiliki peperangan dan hari-hari ini aku sedang jadi korban,
nampaknya perang dalam diri kali ini sulit diajak berdamai dengan cepat,
jangankan melesat bahkan sekarang terasa berat untuk sekadar berjalan lambat.
 
berani menerbitkan ungkapan sederhana ini saja sekarang sudah jadi prestasi bagiku,
butuh tenaga dari goresan luka, pekatnya rindu, serta air mata yang mulai mengering.
hari-hari ini jangan harapkan aku bisa kembali jadi kemarin,
untuk buka suara saja mulutku langsung terasa asin.

pilihan dan keberanian

img_6094
sepertinya masing-masing dari kita kelak akan segera bertemu dengan satu titik dimana kita harus memilih satu dan mengorbankan yang lain.
ini bukan soal pekerjaan dengan keluarga, bukan juga hal sebesar nasionalisme yang harus tergadai demi keselamatan jiwa.
sepertinya level kita belum sampai ke arah sana,
titik itu adalah titik dimana kita memilih dari beberapa pilihan, lalu kita mulai letih menjalani pilihan yang telah kita ambil.
titik itu mungkin lebih akrab disebut titik jenuh.
 ____
saya begitu menyukai kalimat,
“kita bebas memilih, tapi kita tidak pernah bebas atas konsekuensi atas pilihan yang telah kita ambil.”
sederhana, namun sungguh membuat saya seringkali berpikir berulang hanya untuk mengambil suatu tindakan tertentu,
mengangkat telepon, memulai percakapan dengan orang lain, menyusun suatu rencana, bergabung dan terlibat dengan satu agenda, atas tiap pilihan, akhirnya saya semakin menyadari bahwa memang mungkin kebebasan justru terasa indah dengan batasan-batasan.
dalam setiap pilihan yang kita ambil, biasanya akan selalu hadir semangat yang begitu meluap-luap, semacam daya dorong atas keinginan serta kesiapan yang bertemu dengan kesempatan. liar dan tidak terkendali kadang, bahkan diawal biasanya hal-hal kecil terasa begitu berarti lagi perlu untuk dikritisi.
lantas disana kita akan begitu berani loncat, lari, berjibaku disana-sini semata untuk memperjuangkan gagasan, ide, serta semangat untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik, menurut kita.
lalu selanjutnya, akan dimulai benturan-benturan mulai dari yang ringan hingga yang kita rasa diluar batasan.
terjadi perbedaan, terjadi gesekan, terjadi penolakan.
semuanya berlanjut sampai pada satu titik, kita merasa tidak ada lagi jalan, semua yang kita lakukan seolah mentah.
lalu kita mulai linglung, tidak seimbang, mulai membandingkan-bandingkan, mulai mencari pegangan, mulai mencari pelarian. mulai lupa atau tepatnya melupakan alasan pertama kita memilih pilihan tersebut.
setelah itu apa?
gugur.
ada saja yang tiba-tiba mundur teratur, hilang seolah lebur.
lucu.
seolah hidup adalah sekadar menjalani apa yang kita sukai, atau tinggalkan sama sekali.
lucu.
sebab justru disaat “kegelapan” itu hadir, ada yang memanfaatkannya untuk menghilang, seolah gelap bukan bagian dari perjalanan, seolah gelap selalu menyimpan keburukan.
____
img_6093
jangan takut akan gelap kawan, disana justru kita akhirnya bisa melihat apa-apa yang tidak terlihat saat terang, tatap langit diatas, saksikan sendiri bahwa bulan dan bintang justru lebih menawan saat dalam kegelapan,
semakin pekat malam, semakin dekat dengan fajar.
itu kredo alam yang jelas dan tegas.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk menegaskan siapa kamu sebenarnya.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk menyatakan dengan lugas dimana kamu berada.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk memberikan yang terbaik yang kita bisa.
kelak ketika fajar itu datang,
ketika siraman mentari telah seutuhnya menerpa wajah kita,
itulah saatnya kita nikmati bersama hangatnya dunia menyapa kerja-kerja kita.
sebab seperti yang sering saya katakan dalam berbagai kesempatan,
percaya,
tidak ada hasil yang mengkhianati usaha,
sebab cara terbaik mendapatkan kebaikan adalah dengan memberikan kebaikan.
 6490700e-f63b-495a-a55b-8ccdd13a6389