kita dan hati yang (tak) pernah selesai.

IMG_1132.JPG
ada satu adagium atau bahkan kredo yang belakangan begitu menarik saya, dan secara tidak sengaja beberapa kali bermunculan dengan cara yang berbeda.
jangan pernah mengukur sepatu mereka dengan sepatumu, itu berbeda.
jangan membenci seseorang hanya karena dia melakukan dosa yang tidak kita lakukan.
hey, kalimat ini bertenaga betul.
seringkali saya menilai seseorang atas apa yang pernah dia lakukan dalam hidupnya, atau kalau memang dia adalah seorang yang pernah berinteraksi dengan saya, entah dalam jangka pendek ataupun lebih lama, saya juga akan berusaha membangkitkan betul kenangan-kenangan yang ada didalamnya, baik-buruk, pahit-manis, menjadikan itu sebagai sebuah landasan atas sikap dan reaksi yang akan saya berikan saat berhadapan.
apakah itu cara yang benar dalam bersikap?
pipi saya seolah “ditepuk” berulang kali minggu-minggu ini,
“sentuhan” yang lambat-laun sampai pada hati, menyita pikiran lalu berubah jadi tenaga untuk berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan.
saya kemudian merasakan bahwa akan jauh lebih indah jika kita melakukan sesuatu karena memang kita ingin melakukan hal itu, terlepas dari kapan, dimana, siapa, dan sebagainya.
bukan berarti bebas tanpa batas,
dalam hal ini saya merasa akan jauh lebih baik jika kita bergerak atau melakukan suatu kebaikan tanpa melihat waktu, tempat serta sosok yang kita hadapi saat itu.
terdengar klise tapi itulah yang baru saya rasakan hari-hari ini.
terlambat?
barangkali iya.
tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
lagipula, perjalanan masih panjang kawan!
bukankah ini hanyalah satu dari sekian panjang episode yang akan kita jalani?
bukankah peran-peran kita hari ini seolah tidak ada artinya jika dibandingkan dengan peran-peran yang kita impikan di masa depan?
maka sungguh saya belajar betul jangan pernah menaruh harapan pada sesuatu, pada seseorang, pada sosok, pada hal-hal yang pasti dengan mudah mengecewakan.  mudah mengukurnya, potensi kecewa bisa lahir hampir dari seluruh yang kita punya.
maka sungguh mengolah rasa adalah satu bab yang barangkali akan terus menebal dan terasah seiring berjalannya waktu, sebab menata dan menjaga hanya dapat dilakukan oleh mereka yang telah berdamai dengan dirinya, telah selesai hatinya.
pilihan kita untuk diam, pilihan kita untuk bersuara,
pilihan kita untuk angkat tangan, pilihan kita untuk turun tangan,
atas tiap pilihan, semoga kita selalu dalam kebaikan dan keberkahan, selalu memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan.
sebab atas tiap pilihan akan selalu hadir konsekuensi yang kadang tidak pernah kita hitung sebelumnya,
sebab atas tiap pilihan yang kita ambil akan tampil sosok-situs-wahana, hal-hal baru yang semoga kita juga dianugerahi kemampuan untuk mengambil pelajaran didalamnya.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya saya tidak mungkin membuat semua orang bahagia.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya akan ada yang tidak suka, tidak peduli apa dan bagaimana kita telah berusaha, sebab mereka menilai dari sudut mereka berdiri, sebab mereka menilai hanya dari apa yang mereka ketahui.
saya semakin menerima, bahwa pada akhirnya hidup ini bukan sekadar persoalan hubungan antar manusia, semua akan bermuara pada hubungan dengan Sang Pencipta.
jatuh bangunnya kita tidak akan sia-sia jika dalam tiap prosesnya Tuhan selalu kita libatkan.
pada akhirnya tujuan kita berjalan telah digariskan sejak awal kita diciptakan, kita diberikan kebebasan memilih seperti apa perjalanan yang akan membawa kita kesana.
 
img_1031
 
 

kaptenmu

kita telah merapat di dermaga,
meski belum sempurna, tidak ada larangan untuk sekadar pergi berjalan menyusuri pantai.
sendiri atau berdua, dengan pasangan atau jadi orang ketiga.
nikmatilah pasir-pasir putih yang begitu lembut di telapak,
berjalan santai ditemani deburan ombak.
kaptenmu ini juga awalnya ingin menemani,
perjalanan kita kemarin belum mampu memperlihatkan seutuhnya kapten itu seperti apa.
maafkan,
kaptenmu ternyata memiliki badai dalam dirinya.
alih-alih menemani, aku lantas kunci satu ruangan kecil dalam bahtera kita.
alih-alih bersama bernyanyi ruang sendiri, aku justru benar-benar ciptakan jarak yang tidak biasa.
hari ini aku keluar dari ruangan itu,
telah kutanggalkan baju kebesaran serta jabatan,
aku hanya ingin kembali, telah kukendalikan badai-badai ini.
aku belajar, badai hanya bisa dikendalikan oleh mereka yang telah mengendalikan dirinya,
badai tidak bisa diusir, sebab ia bagian dari apa yang kita cinta,
badai tidak mengecil karena usaha kita, badai mengecil karena Tuhan melihat kita telah berusaha.
selamat pagi semuanya.
selamat mengendalikan badai-badai dalam hidup kita.

jarak bagi rasa

rindu barangkali adalah bentuk lain pelukan, ia juga menghangatkan.
jarak diciptakan bukan untuk air mata, lebih indah jika kita sama-sama berpikir bahwa jarak ada untuk memberikan ruang bagi masing-masing jiwa untuk merayakan serta merasakan cinta.
cinta macam apa yang tumbuh hanya dari pertemuan tanpa perpisahan?
biarlah hari-hari ini kita hidup dengan menabung perasaan,
menyimpan segudang tanya yang tak pernah mengudara, memendam gejolak rasa dengan cara-cara lucu lagi istimewa.
jarak itu biarlah terus tumbuh, biarkan ia besar lalu mengenal dengan baik siapa tuannya.
biarkan jarak terus melebar dan ciptakan ruang-ruang baru diantara kita.
kelak ketika jarak telah dewasa, biarkan ia sendiri yang bergerak dan menggerakkan jiwa-jiwa,
biarkan jarak mengerti bahwa hadirnya di dunia memiliki tujuan yang tidak sederhana,
jarak dilahirkan bukan untuk memisahkan,
ia ada untuk membuat tiap jiwa bersyukur dan bersabar tentang pertemuan dan perpisahan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
jemari kita bertemu karena memiliki ruang, bergenggaman menuju bintang.

tabungan perasaan

kenangan-2
kenangan
berapa jumlah draft tulisan yang ada dalam media-arsip digital kalian?
hari-hari ini aku baru menyadari ada beberapa anomali yang ada dalam diriku, dari mulai kepekaan yang dibawah rata-rata, lebih senang menghadapi orang tua dibandingkan yang lebih muda, dan salah satunya adalah lebih gemar memendam meski pun banyak yang merasa aku lebih gemar bersuara.
belakangan aku menyadari ketika sedang mengalami masalah, atau menghadapi hal yang tidak biasa aku hadapi, aku lebih memilih mengambil jarak, lebih memilih berhenti daripada ketika berjalan lebih jauh ternyata menyakiti.
dalam diam inilah aku berpikir panjang, merenungi banyak hal, mencoba mengelola rasa sedemikian rupa.
sial, belakangan ketika aku sedang berhenti, justru beberapa masalah baru justru hadir dan menghampiri.
aku tersudut, aku kebingungan.
______
ada istilah menarik yang diperkenalkan Prof. Rhenald Kasali, non-infinito, kenyataan bahwa ternyata di dunia ini ada banyak hal yang tidak tertuntaskan, kadang ia harus dilanjutkan oleh para generasi setelahnya, atau sederhana, karya tersebut pada akhirnya tidak selesai.  berhenti dan dikenang dengan segala ketidaksempurnaannya.
mungkin dalam hubungan kita, antara kita dengan yang lain, antara kita dengan masalah-masalah kita. ada masa dimana kita pun harus menyadari bahwa kita tidak mungkin dapat menuntaskannya seratus persen.
bukan, bukan karena kita tidak berusaha, bukan pula karena kita belum melakukan yang terbaik yang kita bisa, rasanya lebih tepat jika langkah itu terhenti, atau tepatnya sengaja dihentikan semata karena merasa tidak selamanya segala sesuatu dapat berakhir dengan pelukan dan senyuman.
kita ini manusia, dengan segala keunikan didalamnya, kadang jadi menarik karena kita pun sering bertengkar bahkan sejak dalam alam pikiran kita.
harap dan cemas, berani sekaligus was-was, seringkali dalam hidup ini perasaan yang ada didalam diri kita tidak berdiri sendirian, dia selalu mengajak teman, membuat apa yang kita lakukan tidak mungkin berangkat dari tabula rasa namun seringnya berasal dari gejolak-gejolak tak kasat mata.
lambat tapi pasti, aku semakin memahami diriku.
mengapa pada akhirnya aku ternyata sering memendam, selain karena ternyata aku adalah introvert yang cukup akut, aku adalah orang yang masih memiliki trauma pada urusan perasaan yang terlalu.
aku takut menyakiti, aku takut disakiti.
sebuah kesimpulan yang akhirnya berhasil aku ambil, hasil ekstraksi yang melelahkan lagi menyita waktu cukup panjang.
sebuah kesimpulan yang rasanya semua orang pasti memiliki, pasti merasakan. tapi entahlah, aku pribadi baru berhasil mengenalinya sekarang.
_____
dan bahkan tulisan ini tadinya ingin dilanjutkan dengan beberapa tambahan bahasan, tapi lagi, rasa takutku masih mengalahkan.
maka kusudahi saja, sebelum keberanian ini tertutup lagi lalu terkubur kembali di lubang yang sama.
 
 
 
 
 

hari-hari ini dan kehangatan kita yang lalu

hari-hari ini Tuhan barangkali sedang meminjam kehangatan diantara kita,
sengaja Ia genggam sebab Ia rasa kita tak sedang membutuhkannya,
Tuhan tak mungkin salah, apa yang Ia berikan pastilah sebuah anugerah.
 

SONY DSC
SONY DSC

barangkali hari-hari ini kita kembali beku,
menjadi orang-orang asing yang memiliki kesamaan masa lalu,
aku tak bisa melawan, tak juga sanggup berangkulan.
kali ini aku tak mampu berjalan di depan,
kita semua memiliki peperangan dan hari-hari ini aku sedang jadi korban,
nampaknya perang dalam diri kali ini sulit diajak berdamai dengan cepat,
jangankan melesat bahkan sekarang terasa berat untuk sekadar berjalan lambat.
 
berani menerbitkan ungkapan sederhana ini saja sekarang sudah jadi prestasi bagiku,
butuh tenaga dari goresan luka, pekatnya rindu, serta air mata yang mulai mengering.
hari-hari ini jangan harapkan aku bisa kembali jadi kemarin,
untuk buka suara saja mulutku langsung terasa asin.