pilihan dan keberanian

img_6094
sepertinya masing-masing dari kita kelak akan segera bertemu dengan satu titik dimana kita harus memilih satu dan mengorbankan yang lain.
ini bukan soal pekerjaan dengan keluarga, bukan juga hal sebesar nasionalisme yang harus tergadai demi keselamatan jiwa.
sepertinya level kita belum sampai ke arah sana,
titik itu adalah titik dimana kita memilih dari beberapa pilihan, lalu kita mulai letih menjalani pilihan yang telah kita ambil.
titik itu mungkin lebih akrab disebut titik jenuh.
 ____
saya begitu menyukai kalimat,
“kita bebas memilih, tapi kita tidak pernah bebas atas konsekuensi atas pilihan yang telah kita ambil.”
sederhana, namun sungguh membuat saya seringkali berpikir berulang hanya untuk mengambil suatu tindakan tertentu,
mengangkat telepon, memulai percakapan dengan orang lain, menyusun suatu rencana, bergabung dan terlibat dengan satu agenda, atas tiap pilihan, akhirnya saya semakin menyadari bahwa memang mungkin kebebasan justru terasa indah dengan batasan-batasan.
dalam setiap pilihan yang kita ambil, biasanya akan selalu hadir semangat yang begitu meluap-luap, semacam daya dorong atas keinginan serta kesiapan yang bertemu dengan kesempatan. liar dan tidak terkendali kadang, bahkan diawal biasanya hal-hal kecil terasa begitu berarti lagi perlu untuk dikritisi.
lantas disana kita akan begitu berani loncat, lari, berjibaku disana-sini semata untuk memperjuangkan gagasan, ide, serta semangat untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik, menurut kita.
lalu selanjutnya, akan dimulai benturan-benturan mulai dari yang ringan hingga yang kita rasa diluar batasan.
terjadi perbedaan, terjadi gesekan, terjadi penolakan.
semuanya berlanjut sampai pada satu titik, kita merasa tidak ada lagi jalan, semua yang kita lakukan seolah mentah.
lalu kita mulai linglung, tidak seimbang, mulai membandingkan-bandingkan, mulai mencari pegangan, mulai mencari pelarian. mulai lupa atau tepatnya melupakan alasan pertama kita memilih pilihan tersebut.
setelah itu apa?
gugur.
ada saja yang tiba-tiba mundur teratur, hilang seolah lebur.
lucu.
seolah hidup adalah sekadar menjalani apa yang kita sukai, atau tinggalkan sama sekali.
lucu.
sebab justru disaat “kegelapan” itu hadir, ada yang memanfaatkannya untuk menghilang, seolah gelap bukan bagian dari perjalanan, seolah gelap selalu menyimpan keburukan.
____
img_6093
jangan takut akan gelap kawan, disana justru kita akhirnya bisa melihat apa-apa yang tidak terlihat saat terang, tatap langit diatas, saksikan sendiri bahwa bulan dan bintang justru lebih menawan saat dalam kegelapan,
semakin pekat malam, semakin dekat dengan fajar.
itu kredo alam yang jelas dan tegas.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk menegaskan siapa kamu sebenarnya.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk menyatakan dengan lugas dimana kamu berada.
maka gunakan masa-masa ini justru untuk memberikan yang terbaik yang kita bisa.
kelak ketika fajar itu datang,
ketika siraman mentari telah seutuhnya menerpa wajah kita,
itulah saatnya kita nikmati bersama hangatnya dunia menyapa kerja-kerja kita.
sebab seperti yang sering saya katakan dalam berbagai kesempatan,
percaya,
tidak ada hasil yang mengkhianati usaha,
sebab cara terbaik mendapatkan kebaikan adalah dengan memberikan kebaikan.
 6490700e-f63b-495a-a55b-8ccdd13a6389

apa yang menjadikan mahasiswa berharga?

13920390_10154431695099490_6669349205752013377_o.jpg
apakah jumlah adik yang berhasil ia kader meneruskan tahta, sejumlah manusia yang akhirnya memiliki cara pandang, idealisme yang serupa?
apakah lengkapnya koleksi kartu, peliharaan dalam satu permainan, jejeran smartphone atau justru audio mobil modifikasi yang menghabiskan puluhan juta?
apakah angka yang tertera di rekening panitia yang berhasil didapatkan lewat jerih payah marketing call tak berkesudahan?
apakah teriakan hidup-hidup-hidup yang bersautan, tak berkesudahan seantero jalanan?
apakah gelora semangat yang menembus nyali-nyali ciut para orang tua, mereka yang sedang duduk berkuasa?
apakah analisa tajam nan tanpa beban atas berbagai kondisi terkini, persoalan negeri yang berhasil dikaji lewat serangkaian diskusi panjang siang dan malam?
lantas seandainya ada salah satu yang ternyata jadi jawaban,
apakah itu cukup untuk kita hingga pada akhirnya berani menyebutkan diri kita sebagai seorang mahasiswa?

1 Agustus 2016, sebuah momentum akbar pertama, gong besar pembukaan kegiatan mahasiswa baru Universitas Indonesia 2016 telah terlaksana.
7302. Jumlah mahasiswa baru Universitas Indonesia angkatan 2016.
mutiara Universitas Indonesia.
disanalah kemarin saya untuk pertama kalinya menyapa,
tentu tak banyak yang bisa disampaikan, keterbatasan waktu, agenda yang masih menunggu setelahnya, dan juga memang pada akhir disengaja.
tak banyak kata, cerita yang tersampaikan.
saya mengawali sapaan pagi itu dengan menjelaskan visi dari OKK UI 2016.

momentum perayaan insan akademis menuju kontribusi tanpa batas

penjelasan sederhana tentang makna kontribusi tanpa batas, bahwa ditempat inilah kalian bisa jadi apa saja, sepanjang itu baik dan membawa kebaikan, kejar dan perjuangkan.
sapaan berlanjut pada cerita dua sosok yang sengaja saya hadirkan sebagai contoh bagi laki-laki dan perempuan,
mereka adalah Sri Mulyani dan Eyang Habibie, dua sosok inspiratif yang sebetulnya telah coba diundang oleh kami namun memang karena tidak bertemunya kesempatan maka tidak bisa terjadi,
Sri Mulyani, bagaimana beliau kembali ke negeri ini, meninggalkan beragam keidealan IMF hanya demi sebuah jabatan yang tentunya akan lebih “panas” dan “bergejolak”,
Eyang Habibie, bagaimana beliau rela, tetap bertahan, dengan kewarganegaraan Indonesia, padahal negeri itu telah menawarkan tawaran gila yang luar biasa,
singkatnya, saya coba hadirkan sejenak sosok yang harusnya bisa membuka pandangan mereka, siapa sesungguhnya mereka yang layak disebut alumni dari kampus bernama Universitas Indonesia.
sapaan lantas saya tutup dengan penjelasan tentang makna mutiara.
mengapa mahasiswa baru Universitas Indonesia mendapatkan panggilan mutiara.
bagaimana mutiara tercipta merupakan awal dari penjelasan, bagaimana justru dengan makin dalamnya lautan akan menciptakan tekanan yang membuat bentuk mutiara semakin sempurna.
dan saya berani berkata pada momen itu bahwa sejatinya

“kalian semua adalah mutiara!
orang-orang terpilih dari segenap pelosok desa, penjuru kota,
orang-orang yang telah melewati serangkaian proses panjang yang luar biasa!
namun bukan sekadar itu yang kami harapkan ada pada kalian,
karena kalian mutiara maka keindahan bukan semata karena kalian ada,
tapi indahnya mutiara adalah karena kalian berhimpun, karena kalian bersama-sama.
maka jadikan rangkaian KAMABA UI kali ini, mulai dari paduan suara, PSAU, OKK UI, PSAF, sebagai sebuah rangkaian, momentum bagi kalian semua, turning point, titik dimana kalian menyadari bahwa menjadi mahasiswa adalah soal tentang karya nyata,
tahun ini OKK UI mengusung konsep mentoring dimana kalian akan langsung disatukan dengan kelompok yang begitu beragam,
manfaatkan betul kesempatan itu,
dan mutiara Universitas Indonesia menjadi berharga karena kalian bergerak bersama-sama,
maka sadari dan pahami mulai detik ini bahwa kalian semua adalah mutiara,
lihat kanan-kiri kalian,
rasakan semangat itu,
berkenalanlah dengan mutiara dari fakultas yang berbeda, dari rumpun yang berbeda,
berkenalanlah dengan mereka yang berbeda suku, berbeda agama,
rasakan bahwa perbedaan adalah kekuatan!

sapaan itu saya akhiri.
dilanjutkan oleh Andy, lalu ditutup oleh pekik Universitas Indonesia yang dipimpin oleh Shendy,
di momen ini jugalah pertama kalinya kami memperkenalkan cara baru menggemakan pekik Universitas Indonesia,
dengan mengawalinya dengan kutipan lagu hyme UI,

…dan mengabdi Tuhan…
…..dan mengabdi Bangsa…..
……..dan Negara Indonesia……
UI!
Kepal jari jadi tinju!
UI UI kampusku!
Bersatu almamaterku!
UI!

maka menjawab dua poin besar, apa yang menyebabkan mahasiswa begitu berharga, dan apa yang membuat itu cukup untuk dijadikan alasan bagi seseorang menyandang titel mahasiswa,
adalah karena mereka berbeda, istimewa, dan mereka bergerak bersama-sama.
buang jauh titel itu seandainya kelak ketika bertemu dengan perbedaan mereka justru yang berada paling depan meruncingkan keadaan,
buang jauh sebutan kehormatan itu jika kelak ditemui keadaan bahwa satu kelompok merasa lebih tinggi dibandingkan yang lainnya,
buang jauh mahasiswa bila nanti ditemui orang-orang hebat yang bergerak sendiri-sendiri, berjuang mati-matian sendirian bukanlah cara mahasiswa, bukan seorang mahasiswa,
kita berharga sebagai mahasiswa karena kita berbeda dan kita bergerak bersama-sama.
terus mencari dan mempertahankan kebenaran.